Kata-kata dan Istilah Bahasa Jepang dalam Novel Akatsuki

Published July 27, 2013 by Muliyatun N.

Pada tulisan yang lalu, saya sudah berbagi lirik-lirik lagu yang dikutip dalam novel Akatsuki. Kali ini saya akan mencantumkan kata-kata dan istilah bahasa Jepang yang terdapat dalam novel Akatsuki.

 

Manga kissen: Kafe komik

Koko de hajimete kimi ni deatta …: Di sini pertama kali aku bertemu denganmu …

Nanika goyou deshou ka?: Ada keperluan apa?

Festival Tanabata: Festival Bintang. Perayaannya dilakukan di malam ke-6 bulan ke-7, atau pagi di hari ke-7 bulan ke-7. Festival Tanabata dimeriahkan dengan tradisi menulis permohonan di atas tanzaku.

Tanzaku: Kertas berwarna-warni tempat menuliskan harapan saat Festival Tanabata. Kertas ini terdiri dari lima warna, yaitu hijau, merah, kuning, putih, dan hitam.

Geta: Sandal kayu

Hikoboshi dan Orihime: Legenda Tanabata mengisahkan Orihime yang pandai menenun dan penggembala sapi bernama Hikoboshi. Karena Hikoboshi rajin bekerja, dia diizinkan untuk menikahi Orihime. Namun, Orihime kemudian tidak lagi menenun dan Hikoboshi tidak lagi menggembala. Akibatnya, Raja Langit marah dan keduanya dipaksa berpisah. Mereka tinggal dengan dipisahkan oleh Sungai Amanogawa dan hanya diizinkan bertemu setahun sekali di malam hari ke-7 bulan ke-7.

Burung kasasagi: Kalau hujan turun, Sungai Amanogawa meluap sehingga Orihime tidak bisa menyeberangi sungai untuk bertemu dengan suaminya. Lalu sekawanan burung kasasagi akan berbaris membentuk jembatan yang melintasi Sungai Amanogawa supaya Hikoboshi dan Orihime bisa menyeberang dan bertemu.

Maboroshi desu ka?: Apakah ini ilusi?

Doko ga itai desu ka?: Mana yang sakit?

Gomen ne wakarimasen: Maaf, aku tidak tahu …

Daijoubu : Tidak apa-apa …

Atsui desu ne?: Panas, ya?

Chotto matte!: Tunggu sebentar!

Ohayou!: Selamat pagi!

Chokoreto ga totemo suki desu.: Aku sangat menyukai cokelat.

Beru ga natta.: Bel sudah berbunyi.

Masaka ...: Tidak mungkin …

Susuharai: Kegiatan bersih-bersih rumah untuk menyambut tahun baru.

Kadomatsu: Rangkaian cabang pohon pinus, cabang bambu, dan cabang pohon plum yang digunakan untuk menghiasi gerbang rumah selama perayaan tahun baru.

Sho-chiku-bai: Pohon pinus, bambu, dan plum yang dianggap sebagai simbol dari keberuntungan.

Konbini: Convenience Store

Oden: Jajanan khas musim dingin

Toshikoshi soba: Mi yang khusus dihidangkan menjelang tahun baru.

Soba-ya: Toko mi

Tsurigane: Lonceng besar yang ada di jinja

Jinja: Kuil agama Shinto

Akemashite omedetou gozaimasu: Selamat tahun baru …

Matsukasari: Hiasan dari cemara yang digantungkan di depan pintu masuk sebagai tanda menyambut tahun baru.

Nengajou: Kartu pos untuk saling mengucapkan selamat tahun baru.

Arubaito: Pekerja paruh waktu

Hatsumoude: Pergi ke jinja saat tahun baru.

Neshougatsu: Tidur di saat tahun baru, yaitu tidur dari tanggal 1 sampai dengan 3 Januari.

Oyasumi ...: Selamat tidur …

Hatsuyume: Mimpi pertama di tahun baru.

Shougatsu sanganichi: Tiga hari pertama bulan Januari.

Shougatsu ryokou: Piknik untuk mengisi liburan tahun baru.

Nenshi: Bertandang ke sanak famili atau teman dalam liburan tahun baru.

Oseibo: Hadiah yang diberikan saat tahun baru.

Karuta: Permainan dalam bentuk kartu-kartu tradisional yang dimainkan khusus dalam rangka tahun baru.

Hanetsuki: Permainan tradisional seperti bulu tangkis, tapi raketnya dari kayu yang diberi hiasan.

Takoage: Permainan khas tahun baru berupa layang-layang yang dihiasi warna-warna dan tulisan-tulisan tahun baru.

Koma (beigoma): Permainan gasing

Sugoroku: Permainan seperti ular tangga

Osechi: Hidangan yang dimakan oleh masyarakat Jepang pada tiga hari pertama perayaan tahun baru. Osechi terdiri dari kacang hitam, rumput laut gulung, ikan yang direbus dengan saus soya, dan omelet manis. Selain itu juga disajikan lobak, wortel, dan bayam. Penyajian jenis makanan ini telah dimulai sejak zaman dahulu. Sekarang, jenis makanan dalam hidangan ini jauh lebih bervariasi. Misalnya saja bubur kentang manis dan kacang manis. Untuk menambahkan warna pada makanan tersebut, bisa ditambahkan kamaboko, yaitu sejenis pasta ikan yang berwarna merah dan putih. Hal ini juga untuk menambah keindahan penyajian makanan itu. Selain itu, telur ikan haring dan lobster juga disajikan dalam hidangan itu. Memakan telur ikan haring mempunyai arti filosofi agar anak-cucu dan keturunannya makmur.

Juubako: Sebuah kotak besar bersusun yang terbuat dari porselen.

Mochi: Kue beras

Kagami-mochi: Kue beras yang berbentuk seperti kaca bundar yang dipersembahkan kepada dewa pada perayaan tahun baru.

Kagami-biraki: Saatnya bagi orang-orang Jepang untuk memotong kue mochi dan memakannya, biasanya pada tanggal 11 Januari.

Zoni: Kue beras yang dimasak dengan sayur. Ini menjadi makanan yang umum pada perayaan tahun baru pada zaman Muromachi.

Omimai: Menjenguk orang sakit.

Omiai: Bertemu dengan orang yang akan menjadi calon pengantinnya.

Itsu made mo kawaranai : Sampai kapan pun tidak akan berubah …

Taiyou wa yoru mo kagayaite.: Matahari juga bersinar di malam hari.

Karada ni taisetsuni: Jaga diri, ya …

Zuru: Burung bangau lipat

Hontou ni?: Benarkah?

Shiawase desu.: Aku bahagia.

Jukusui dekimasen.: Aku tidak bisa tidur.

Ki wo tsukete kudasai.: Hati-hati di jalan.

Kirikizu wo shita.: Jariku teriris.

 

Wah, lumayan banyak, ya? Biar lebih memahami kata-kata bahasa Jepang tersebut, teman-teman bisa membaca contoh penggunaannya dalam novel Akatsuki. Jadi penasaran sama novel Akatsuki, kan? Makanya, buruan baca novel Akatsuki!

Lirik Lagu-lagu Anime dalam Novel Akatsuki

Published June 24, 2013 by Muliyatun N.

Bagi yang sudah pernah membaca novel Akatsuki, pasti tahu dong kalau salah satu ciri khas novel tersebut adalah banyak mencantumkan lirik lagu anime di sela-sela cerita. Bagi yang belum membaca novel Akatsuki, buruan baca. Berikut ini adalah potongan-potongan lirik lagu anime yang dikutip dalam novel Akatsuki.

 

kaki narase sonzai wo

koko ni iru to

hibike ano akatsuki no sora ni

petiklah nada kehadiranmu

dan bahwa kau ada di sini

biarkan suaranya bergema pada langit fajar

Diambil dari lirik lagu Remember, 8th Opening Song anime Naruto yang dinyanyikan oleh FLOW.

 

***

 

Umaku yareru mashiin ja nai

Kau bukan mesin yang harus selalu bekerja dengan baik …

Diambil dari lirik lagu Real Identity, 1st Ending Song anime Kaleidostar, yang dinyanyikan oleh Sugar.

 

***

 

sonna toki itsu datte me wo tojireba

waratteru kimi ga iru

di setiap waktu, kala aku memejamkan mata

aku dapat melihatmu tertawa

Diambil dari lirik lagu Dearest, 3rd Ending Song anime Inu Yasha, yang dinyanyikan oleh Hamasaki Ayumi.

 

***

 

uchi e kaero shiroi usagi

tsuki no ura deaimashou

kaero asu ni nareba

hadashi de waratteru kara

ayo pulang ke rumah, kelinci putih

di balik bulan kita pasti bertemu

ayo pulang, bila esok datang

kita tertawa dengan kaki telanjang

Diambil dari lirik lagu Home Sweet Home, Movie Main Theme anime Naruto, yang dinyanyikan oleh Yuki.

 

***

 

kotoba ga hanatsu imi wo

tatoe no nai omoi wo

kotaeru koto no nai kanjou wo

mitsumeaeba tsutawaru koto ga dekitara ii noni na

arti kata-kata yang kau ucapkan

cinta yang tidak diragukan

perasaan yang tidak memiliki jawaban

seandainya semua itu dapat ditafsirkan hanya dengan saling bertatapan

Diambil dari lirik lagu Nakushita Kotoba (Kata yang Hilang), 9th Ending Song anime Naruto, yang dinyanyikan oleh No Regret Life.

 

***

 

mata “ohayou” tte itte

mata yume wo misete

kyou mo genki de sugosetara ii yo ne

kuucapkan lagi “selamat pagi” padamu

dan aku kembali terjatuh ke dalam mimpi

akan lebih baik bila kita dapat melewati hari-hari dengan bahagia

Diambil dari lirik lagu Ohayou (Selamat Pagi), Opening Song anime Hunter X Hunter, yang dinyanyikan oleh Keno.

 

***

 

kotoba ni shinakutemo yasashisa kanjiteta

nan ni mo kikanaide issho ni ite kureta

walau kau tidak berkata-kata, aku dapat merasakan kebaikanmu

tanpa banyak tanya, kau ada bersamaku

Diambil dari lirik lagu Before Dawn, 5th Ending Song anime One Piece, yang dinyanyikan oleh ZZ.

 

***

 

yozora wo miage hitori houkiboshi wo mita no

isshun de hajikete wa kiete shimatta kedo

anata no koto omou to mune ga itaku naru no

ima sugu aitai yo dakedo sora wa tobenai kara

sendiri menatap langit malam, aku melihat bintang berekor

meski dia hanya muncul lalu hilang dalam sekejap

saat aku memikirkanmu, hatiku menjadi sakit

kini aku ingin menemuimu, tapi aku tidak bisa terbang melintasi langit

Diambil dari lirik lagu Houkiboshi (Komet), 3rd Ending Song anime Bleach, yang dinyanyikan oleh Younha.

 

***

 

Tatoeba ne namida ga koboreru hi ni wa

sono senaka wo hitorijime shitai kedo

yasashisa wa tokidoki zankoku dakara

motomeru hodo kotae wo miushinau

Nani mo iwanai demo konna kimochi ga

kimi no mune ni tsutawareba ii noni

 

Futoshita shunkan tsunoru kimochi ja naku

sukoshizutsu sodatete iku mono da ne

aisuru kimochi wa

 

Kimi ga iru kara asu ga aru kara

hitorikiri ja ikite yukenai kara

konna ni chikaku ni kanjiru

sore ga, ai deshou

Namida no kazu no itami wo kimi wa shitteru kara

sukitooru sono me no naka ni

tashika na imi wo sagashite

egao mitsuketai

Apabila ada hari ketika air mataku tertumpah

ingin kudapati punggungmu hanya untukku, namun

karena kebaikan hati kadang-kadang pun kejam

aku kehilangan jawaban yang begitu kuinginkan

 

Kan lebih baik bila tanpa mengatakan apa pun, rasa ini

dapat tersampaikan ke dalam hatimu

 

Itu bukan perasaan yang terbangun sesaat begitu saja

tapi sesuatu yang tumbuh sedikit demi sedikit

perasaan itu disebut cinta

 

Karena ada kau, karena ada hari esok

karena aku tidak bisa hidup sendirian

aku merasa kau begitu dekat denganku

kurasa itu cinta

Karena kau tahu berapa banyak air mata luka yang ada

maka selagi dalam mata beningmu

kucari makna pasti

aku ingin menemukan senyuman

Diambil dari lirik lagu Sore ga, Ai Deshou (Kurasa Itu Cinta), Opening Song anime Full Metal Panic, yang dinyanyikan oleh Shimokawa Mikuni.

 

***

 

tooku hanareteru hodo ni

chikaku ni kanjiteru

samishisa mo tsuyosa e to kawatteku

kimi wo omotta nara

jauh kita terpisahkan

dekat hadirmu kurasakan

hingga kesepianku pun berubah menjadi kekuatan

bila aku memikirkanmu

Diambil dari lirik lagu Reason, 1st Ending Song anime Gundam Seed Destiny, yang dinyanyikan oleh Tamaki Nami.

 

***

 

ame ga futte iyada to boyaiteita toki ni

anata ga itta koto ima demo oboeteru

ame no ato no yozora wa kirei ni hoshi ga deru

sore wo kangaeru to ame mo suki ni nareru yo ne to

selagi aku mengeluhkan betapa menyebalkannya hujan ini

hingga kini aku masih ingat apa yang kau katakan

bahwa usai hujan, langit malam begitu indah dipenuhi bintang-bintang

hanya dengan memikirkannya, aku pun bisa menyukai hujan

Diambil dari lirik lagu Houkiboshi (Komet), 3rd Ending Song anime Bleach, yang dinyanyikan oleh Younha.

 

***

 

Inori wo sasagete atarashii hi wo matsu

Aku berdoa selagi menanti hari yang baru

Diambil dari lirik lagu Life is Like a Boat, 1st Ending Song anime Bleach, yang dinyanyikan oleh Rie Fu.

 

***

 

Kimi no kokoro e … kimi no kokoro e …

Todoke … todoke … todoke …

Boku no kokoro ga … kimi no kokoro e …

Todoku you ni … utau yo …

Boku wa michi wo nakushi

kotoba sura nakushite shimau

dakedo hitotsu dake wa

nokotteta nokotteta

kimi no koe ga

 

Warau kao mo okoru kao mo subete

boku wo arukaseru

kumo ga kireta saki wo

mitara kitto

 

Nee wakaru deshou?

 

Aimai ni ikite itemo

kokoro ga mijuku demo

sore de ii hora soko ni wa

daiji na hito ga iru

 

Kimi ga mayou no nara

boku ga michishirube ni narou

ato wa shinjireba ii

tashikameru sube wa motta

osorenaide

 

Ima dake demo ii

Menuju hatimu menuju hatimu

Mencapainya mencapainya mencapainya

Hatiku menuju hatimu

Untuk mencapainya aku bernyanyi

 

Aku kehilangan jalanku

bahkan sepenuhnya kehilangan kata-kataku

tetapi hanya satu

yang tersisa, yang tersisa

suaramu

 

Senyumanmu, kemarahanmu, segala tentangmu

membuatku dapat tetap berjalan

aku yakin itu kala melihat

ujung awan yang terbelah

 

Kau mengerti maksudku?

 

Walau aku hidup tidak tentu

walau jiwaku masih rapuh

itu tidak masalah, lihatlah, di sana

ada orang yang sangat berharga bagiku

 

Jika kau kehilangan arah

aku akan menjadi penunjuk jalanmu

kemudian jika kau mempercayaiku

aku tahu pasti ke mana harus berjalan

karena itu, jangan takut

 

Bahkan saat ini semuanya baik-baik saja

Diambil dari lirik lagu Michi ~To You All~ (Jalan ~To You All~), 2nd Ending Song anime Naruto Shippuden, yang dinyanyikan oleh Aluto.

 

***

 

kimi wa damatte iru kaze ni yurarete iru

sore ga tada ureshikute sukoshi uta wo utatta

angin berhembus menerpa kau yang berdiam diri

itu sangat menyenangkan sehingga kunyanyikan sedikit lagu

Diambil dari lirik lagu Yasashii Gogo (Sore yang Menyenangkan), Ending Song anime D.N. Angel, yang dinyanyikan oleh Yamaguchi Minako.

 

***

 

Kibun wa kaisei, kondo, issho ni

karada wo dakishimete, kin no kyoukai de

Yellow moon kaketa yozora de wa tsuki wa kyou mo

shizuka na kao de hikaru no sa

Me wo mite, me wo mite, se wo mukeai nagara

Saat ini, bersama kita merasakan cuaca yang cerah

dengan aku memelukmu erat, dalam bangunan emas

Yellow moon, hari ini pun, kala langit malam tak cukup dengan sinar bulan

wajahmu yang damai tetap bercahaya

Tatap mataku, tatap mataku, selagi kau berbalik ke belakang

Diambil dari lirik lagu Yellow Moon, 13th Ending Song anime Naruto, yang dinyanyikan oleh Akeboshi.

 

***

 

namae wo yonde yonde dakishimeru yo

omoidashite me wo tojite osanai koro

panggil namaku, panggillah, aku akan memelukmu

dengan mata terpejam, kita kenang masa-masa yang kekanak-kanakan itu

Diambil dari lirik lagu Home Sweet Home, Movie Main Theme anime Naruto, yang dinyanyikan oleh Yuki.

 

***

 

Boku yori mo, boku no koto wo umaku aiseru no wa, kimi shika inain datte, wakatte

Aku menyadari bahwa satu-satunya orang yang bisa mencintaiku lebih dari diriku sendiri adalah kau

Diambil dari lirik lagu Ohayou (Selamat Pagi), Opening Song anime Hunter X Hunter, yang dinyanyikan oleh Keno.

 

***

 

ai no namida ga nagareru hodo

kimi wo aishitari kanjitari

air mata cinta pun mengalir dariku

karena aku begitu mencintaimu dan mempedulikanmu

Diambil dari lirik lagu Pray, Opening Song dari Hunter X Hunter OVA Greed Island, yang dinyanyikan oleh Wish.

 

***

 

Ooki na koe de waratte ii ki na mon ne

Kasa mo nai noni doshaburi me mo aterarenai

Bukankah lebih baik kita tertawa lepas?

Hingga tanpa payung pun, hujan tidak akan dapat mengenai mata kita

Diambil dari lirik lagu Watashi ga Iru Yo (Aku di Sini Denganmu), 3rd Ending Song anime One Piece, yang dinyanyikan oleh Tomato Cube.

 

Nah, lumayan banyak, kan, lirik lagu anime dalam novel Akatsuki. Lirik-lirik lagu tersebut dicantumkan untuk memperkuat suasana dalam cerita. Oh, iya, novel Akatsuki mengalami transformasi, lho. Biar makin seru, baca sendiri novel Akatsuki.

Sakura Monogatari (Kisah Sakura)

Published May 1, 2013 by Muliyatun N.

Sakura. Siapa yang tidak mengenalnya? Bunga kecil yang sangat indah, dengan warna putih agak merah muda, yang kalau mekar jumlahnya sangat banyak sehingga rantingnya pun tak nampak. Itulah bunga sakura dengan segala keindahannya. Bunga khas Jepang yang selalu dinanti-nanti saat mekarnya karena hanya mekar di musim semi.

Namun, sekarang ini aku tidak akan bercerita panjang lebar mengenai bunga sakura. Aku hanya akan menyampaikan sebuah kisah pendek yang sederhana. Barangkali juga tidak penting menurut kalian. Tapi, kuharap kalian berkenan membaca cerita ini dan semoga kalian bisa mengambil pelajaran dari apa yang akan kalian baca ini.

%%%

            BRUKKK!

Tubuh jangkungnya terempas di lantai. Kursi tempatnya duduk terguling. Palet dan kuasnya berantakan. Cat dalam berbagai warna pun bertebaran.

“Aduh … kenapa sampai tertinggal?” Sakura menggerutu pelan sambil berjalan cepat-cepat menuju ruang kesenian. Kotak pensilnya tertinggal di sana.

Tiba-tiba, langkahnya tertahan di pintu. Dia heran melihat tubuh seseorang tergeletak di sana.

Siapa yang masih berada di ruang kesenian pada jam-jam seperti ini, ya? Sakura bertanya-tanya dalam hati sembari kakinya bergerak pelan-pelan mendekati sosok itu.

“Senior Ichiru …” Sakura nyaris memekik.

Sakura cepat-cepat berlutut di samping tubuh Ichiru. Dengan lengannya dia menahan punggung Ichiru di pangkuannya.

“Senior Ichiru, apa yang terjadi? Senior, bangunlah!” Sakura berbicara panik. Dia mencoba membangunkan Ichiru dengan mengguncang-guncangkan bahunya, tapi Ichiru tidak juga membuka matanya. Di tengah rasa paniknya, Sakura tiba-tiba menyadari sesuatu. Hal itu semakin menambah kepanikannya.

Hah?! A, apa-apaan ini? Kenapa jadi begini? Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Batin Sakura menjerit sekuat-kuatnya.

%%%

            Sepanjang malam Sakura tidak bisa tidur. Dia berguling-guling di atas tempat tidur sampai sepreinya berantakan.

Senior Ichiru ….

Pertama kali masuk SMA, Sakura memutuskan untuk bergabung dengan kelompok seni lukis. Di sanalah dia mengenal Ichiru yang sudah kelas 3. Awalnya, Sakura menganggap Ichiru biasa saja, sama dengan senior-senior lain dari kelas 3. Sampai suatu ketika, Ichiru berkomentar tentang lukisannya.

“Hmm … lukisan yang jujur.”

“Eh? Senior Ichiru ….” Sakura terperanjat. “Apa maksud Senior? Menurutku, lukisan ini sangat biasa ….”

Ichiru tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum tipis, membuat Sakura semakin bertanya-tanya.

Pada suatu hari, Ichiru menyarankannya untuk mengikutsertakan lukisannya pada seleksi lukisan yang akan dipamerkan dalam festival sekolah. Ichiru juga yang selalu menyemangatinya setiap kali dia merasa rendah diri. Karena itu, Sakura berusaha keras untuk menghasilkan lukisan yang bagus.

“Bagaimana menurut Senior?” tanyanya saat dia berhasil menyelesaikan lukisannya tentang pohon sakura yang seluruh rantingnya tertutup mahkota sakura.

“Bagus sekali!”

Sakura tampak berseri-seri, tapi sebentar kemudian, senyumnya surut melihat Ichiru menatap lukisannya lama sekali sambil mengerutkan kening.

“Senior, ada apa?”

Ichiru tersenyum lembut. “Lukisan ini sangat bagus. Juga indah. Tapi, karena aku sudah mengenal Sakura yang sesungguhnya, aku jadi tahu kalau lukisan ini seperti bohongan. Terus berusaha, ya?” Ichiru mengacak rambutnya, kemudian berlalu.

Sakura terpaku menatap kepergian Ichiru.

Seperti bohongan? Apa maksudnya? Padahal, aku sudah berusaha sekeras ini. Tapi, menurut Senior Ichiru …. Sakura menutup matanya rapat-rapat guna membendung air matanya.

Sepanjang sore, Sakura terus berada di studio lukis. Dia sedang membuat lukisan yang baru. Tak peduli bahwa tubuhnya terasa penat dan hari mulai gelap. Tak dihiraukannya kelelahan yang merambati otot-ototnya, rasa sakit di hatinya, perut yang lapar, dan kerongkongannya yang dahaga. Dia bertekad menyelesaikannya malam ini. Apa pun hasilnya nanti, dia tidak terlalu peduli pada apa yang akan dikatakan orang.

“Hufff ….” Sakura menyandar di kursi. Lukisan itu berhasil diselesaikannya. Sebuah lukisan yang sederhana, tentang sakura yang mengapung di permukaan air. Tapi, Sakura merasa puas dengan hasil karyanya.

“Kerja yang melelahkan, ya?” sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Sakura.

“Se, Senior Ichiru ….” Sakura menoleh dengan heran. “Sedang apa di sini malam-malam begini?”

“Jasa pengantar minuman siap melayani. Ini ….” Ichiru mengulurkan kaleng jus untuknya.

“Oh ….” Sakura terkejut. “Terima kasih ….”

“Kau pasti membutuhkannya setelah bekerja keras. Oh, iya. Lukisannya sudah selesai, kan?”

Sakura mengangguk. Dia tak hendak menanyakan pendapat Ichiru. Ichiru juga tidak berkomentar apa-apa, hanya merapikan lukisan Sakura dan membereskan berbagai peralatan yang baru saja dipakainya. Sakura berusaha mencegahnya, tapi Ichiru menyuruhnya duduk saja dan menghabiskan minumannya.

Tak lama kemudian, ruangan itu kembali rapi.

“Terima kasih, ya? O-tesuu kakete sumimasen (maaf, merepotkan) ….”

Ichiru tersenyum. Tatapannya terfokus pada lukisan yang baru saja dibuat oleh Sakura. “Sakura …” panggilnya.

“I, iya. Ada apa?” sahutnya sedikit gugup.

“Secara jujur kukatakan, lukisan yang kau tunjukkan padaku tadi siang lebih bagus daripada lukisan ini.”

Sakura diam mendengarkan. Dia memutar-mutar gelas kopi di tangannya.

“Tetapi aku juga harus mengatakan bahwa aku lebih menyukai lukisan ini daripada lukisan yang tadi siang.”

Kepala Sakura langsung terangkat mendengar perkataan Ichiru. “Jadi, sebenarnya apa maksud Senior?”

“Kau ingat? Aku pernah mengatakan bahwa lukisanmu adalah lukisan yang jujur. Dari lukisanmu, aku mengenalmu. Lukisanmu adalah ungkapan yang jujur tentang dirimu. Tapi, pada lukisan yang kulihat tadi siang, aku tidak menemukan dirimu. Aku merasa bahwa kau terlalu ingin menghasilkan lukisan yang bagus sehingga kau terpaku pada teori. Kau memaksa dirimu menjadi orang yang berbeda supaya orang lain menyukaimu. Padahal, seharusnya tidaklah demikian.”

Sakura mengangguk pelan.

“Berbeda dengan lukisan ini. Kau tidak begitu peduli pada apa kata orang. Dan, di sinilah aku mendapati dirimu yang sesungguhnya. Kau melukis dengan hati ….”

Sakura menatap Ichiru tidak percaya. Dia lega sekali mendengar penuturan Ichiru hingga matanya berkaca-kaca. “Senior, terima kasih ….”

“Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Jangan pernah mencoba menjadi orang lain lagi, ya?”

Sakura pun mengangguk kuat-kuat.

Dia ingat. Sakura ingat semua itu. Tapi sekarang ….

Padahal Senior sendiri …. Padahal Senior ….

Sakura menyembunyikan kepalanya pada bantal. Dia masih belum juga bisa tidur.

Senior, sebenarnya aku ….

%%%

            “Aku … di mana?” tanya Ichiru putus-putus.

“Syukurlah, Tuan sudah sadar. Ini kamar Tuan.”

“Bibi …” Ichiru berucap lemah. “Bagaimana aku bisa berada di sini?”

“Tadi Nona Sakura mengantarkan Anda kemari.”

“Sakura?” Mata Ichiru menyipit.

“Benar. Katanya, dia menemukan Tuan pingsan di ruang kesenian.” Bibi Mizu menjelaskan.

Ichiru terdiam, mengingat-ingat kembali apa-apa yang baru saja dia alami. Jadi?! Seketika itu dia terkejut, tapi dia berusaha terlihat tenang.

“Jadi, dia sudah tahu?”

“Saya rasa begitu, Tuan. Maafkan saya.”

Ichiru mengembuskan napas pelan. “Bibi tidak perlu minta maaf.” Dia mencoba tersenyum. “Sebaiknya Bibi beristirahat. Daijoubu (aku baik-baik saja).”

“Baik, Tuan.” Bibi Mizu membungkuk sedikit. “Saya permisi.”

Bibi Mizu pun berlalu meninggalkan Ichiru sendirian di kamarnya. Sepeninggalnya, Ichiru mencoba untuk duduk. Kepalanya terasa berat. Seminggu ini dia kelelahan sampai akhirnya tadi sore dia pingsan.

Sakura ….

Ichiru memejamkan matanya.

“Indah sekali seperti sungguhan ….

Bayangan Sakura yang sedang menggerakkan jemarinya di dekat lukisan bunga sakura yang baru saja dia buat, tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Kenapa Senior sering melukis sakura?” tanya Sakura waktu itu.

“Ehm kenapa, ya? Mungkin, karena aku suka pada Sakura ….

Mata Ichiru terbuka. Dia ingat saat itu wajah Sakura menjadi bersemu merah sehingga mirip sekali dengan warna bunga sakura.

“Suatu saat nanti, aku juga akan menjadi pelukis hebat seperti Senior Ichiru. Isshoukenmei ni ganbarimasu (aku akan berusaha keras)!

“Kalau begitu, kita bersaing, ya?”

“Iya!” sahutnya optimis.

Sakura. Dia gadis yang selalu bersemangat dan menularkan keceriaan pada dirinya.

Kembali Ichiru memejamkan matanya. Sakura, maafkan aku ….

%%%

            Pulang sekolah hari ini, Sakura sibuk berkutat dengan lukisannya di ruang kesenian. Dia sedang membuat lukisan abstrak rupanya. Dia menggunakan sembarang warna, mencampur warna yang satu dengan yang lain tanpa memerhatikan keserasian dari perpaduan warna yang dihasilkan. Caranya menggunakan kuas pun serampangan. Coret kanan, coret kiri, gores ke atas, gores ke bawah, garis lurus, garis lengkung, garis tebal, garis tipis, bengkok, zig-zag ….

Pada akhirnya ….

BRAKKK!

Sakura melemparkan kanvasnya, membuang kuas dan paletnya jauh-jauh. Dia menangis tersedu-sedu.

“Hatimu sedang kacau rupanya,” satu suara yang sangat dikenalnya.

Menyadari ini, Sakura berusaha menghentikan tangisnya. Cepat-cepat diusapnya wajahnya. Dia tidak mau menangis di hadapan Ichiru.

“Hmm … lukisan yang fantastis!” komentar Ichiru sambil memungut kembali lukisan yang baru saja dibuat oleh Sakura. Dia lalu menyandarkannya ke tembok.

Sakura hanya bisa menunduk. Kedua tangannya terkepal dan ditekankan ke lututnya. Sesekali isakannya masih terdengar. Ichiru berjalan mendekat kemudian berjongkok di hadapannya. Jari-jarinya lembut mengusap air mata Sakura.

“Tuan Putri, jangan menangis lagi, ya?” ujarnya seraya tersenyum.

“Kenapa? Kenapa Senior melakukannya?” tanyanya nyaris menjerit.

Ichiru membuang napas panjang, lalu tertawa kecil. “Ya, kurasa, kau boleh mengetahui hal ini.” Dia menarik sebuah kursi kemudian duduk di samping Sakura. “Masa lalu,” kata Ichiru memulai. “Masa lalu yang menyakitkan.”

Sakura menunggu kelanjutan ceritanya.

“Aku hanya tinggal bersama kakakku. Kedua orangtua kami sudah meninggal. Paman dari pihak ayah bersedia merawat kami, tapi rupanya paman tidak menyukai anak perempuan. Awalnya, paman masih menerimaku karena kakak selalu membelaku. Tapi, lama-lama kakak berubah. Dia larut dalam kebahagiaannya sendiri karena paman begitu membanggakannya. Kakak semakin melupakanku. Apa pun yang kulakukan tidak ada yang berarti bagi keluarga paman. Akhirnya, suatu hari aku memotong rambutku dan pergi meninggalkan rumah paman. Aku kembali ke rumahku sendiri sebagai laki-laki. Hanya Bibi Mizu, pelayan keluarga yang setia, yang mengetahui hal ini. Bibi Mizu satu-satunya keluarga yang kumiliki ….”

Sakura diam saja mendengarkan penuturan panjang Ichiru. Dia meremas-remas jemarinya sendiri.

“Kenapa di dunia ini harus ada laki-laki dan perempuan yang hanya akan menimbulkan perselisihan?” Ichiru bertanya seperti pada dirinya sendiri.

Tidak disangka, Sakura turut berbicara. “Kenapa Senior masih menanyakannya? Bukankah segala sesuatu memang diciptakan secara berpasangan? Ada langit dan bumi, siang dan malam, gelap dan terang, panas dan dingin, juga laki-laki dan perempuan. Jadi, tidak benar jika laki-laki lebih baik daripada perempuan atau sebaliknya. Semua saling melengkapi dan membutuhkan.”

Sejenak, Ichiru tertegun di tempatnya. Dia tidak menduga sama sekali Sakura akan berkata demikian.

“Tapi, aku punya alasan. Sekarang setelah kau tahu, kau bisa mengerti tindakanku, kan?”

Sakura meremas jemarinya semakin kuat. “Sebenarnya, aku tidak berhak meminta atau melarang Senior menjadi siapa dan seperti apa.” Sakura diam sebentar sebelum kembali berbicara, “Tapi, sebagai sesama perempuan, aku tidak bisa menerima alasan Senior untuk menjadi laki-laki. Aku tidak ingin Senior melawan kodrat. Jika Senior mengetahui ada orang yang meremehkan perempuan, seharusnya Senior membuktikan bahwa perempuan itu hebat. Apalagi, Senior memiliki banyak prestasi. Senior bisa menjadi wanita pelukis yang hebat. Bukannya malah menutupi identitas Senior sebagai seorang wanita ….” Usai mengungkapkan kalimat-kalimatnya yang panjang, tangis Sakura kembali tumpah.

Ichiru menatap adik kelasnya lekat-lekat. Sakura gadis polos yang ceria. Namun, saat ini gadis polos itu menangis. Gadis yang ceria itu mengutarakan isi hatinya yang paling jujur, kata-kata bijak yang mengetuk-ngetuk pintu batin Ichiru.

“Kurasa kau benar.” Ichiru tersenyum. “Tapi, ternyata tidak mudah, ya? Shippai shita (aku telah gagal) ….”

Sakura menggeleng-geleng. “Machigai desu (itu tidak benar). Senior masih bisa kembali menjadi diri Senior yang sesungguhnya. Dan saat menjadi laki-laki … sebenarnya … sebenarnya … aku pernah menyukai Senior Ichiru!” Sakura harus mengerahkan seluruh energinya untuk dapat mengungkapkan hal itu. Matanya erat terpejam. “Aku malu sekali mengatakannya. Apalagi sekarang, hal itu tentulah sangat aneh ….”

“Sakura ….”

Tiba-tiba saja, Sakura telah berada dalam pelukan Ichiru. Sakura hanya terisak-isak.

“Maaf, ya, mengecewakanmu ….”

Sakura mencengkeram lengan Ichiru kuat-kuat. Ichiru dapat merasakan luapan emosi adik kelasnya itu dari rasa sakit di lengannya akibat cengkeraman Sakura yang begitu kuat.

“Senior … jahat …. Pembohong!”

“Aku minta maaf.”

“Padahal, Senior selalu bilang … untuk jadi diri sendiri …. Padahal ….” Sakura sudah tidak sanggup lagi meneruskan kalimatnya karena tenggorokannya tersumbat air mata.

“Aku memang seperti ini. Maafkan aku ….” Ichiru mendekap Sakura lebih erat, seperti mendekap adiknya sendiri. “Sebenarnya, aku juga sangat suka pada Sakura karena Sakura selalu percaya diri sebagai seorang perempuan. Terkadang aku iri, karena tidak bisa jujur pada diri sendiri … sepertimu ….”

Tidak begitu. Sebenarnya, aku hanyalah gadis yang rendah diri, tapi Senior Ichiru selalu mendorong semangatku. Aku sayang sekali pada Senior Ichiru seperti kakakku sendiri ….

Sepasang anak manusia itu masih terus berpelukan selama beberapa waktu tanpa ada yang bersuara. Hingga sesaat kemudian, Ichiru memecah keheningan di antara mereka.

“Sakura … terima kasih ….”

%%%

            “Hontou ni iku no ka (Kakak benar-benar akan pergi, ya)?”

Ichiru menatapnya lekat-lekat seraya tersenyum, kemudian mengangguk.

“Kapan Kakak kembali? Kakak cepat kembali, ya?”

Mendengar hal itu, Ichiru tertawa. “Kau ini. Aku, kan, belum berangkat. Kenapa sudah bertanya kapan aku akan kembali?”

Sakura tersenyum malu-malu.

“Hmm … mungkin dua tahun lagi. Saat kau lulus SMA,” jawab Ichiru.

“Itu, kan, lama sekali …” Sakura mulai merajuk.

Ichiru hanya tersenyum. “Saat aku kembali nanti, mungkin aku akan tetap seperti ini. Mungkin juga, aku akan berubah. Kembali menjadi Ichiru yang sebenarnya. Dan … aku yang sekarang akan lenyap begitu saja.”

“Kakak ….”

“Bagaimana? Kau senang?”

“Aku akan senang kalau Kakak sudah kembali menjadi diri Kakak yang sesungguhnya,” ujar Sakura, kalem.

Mendengar jawaban Sakura, Ichiru pun mengacak-acak rambut gadis itu sebagaimana biasa.

Begitulah. Saat ini Sakura duduk di bangku kelas 2 SMA, sedangkan Ichiru sudah lulus. Ichiru telah memutuskan untuk berkeliling Jepang dan menjadi pelukis setelah lulus SMA. Karena itu, Sakura merasa kehilangan. Namun, dia sedikit terhibur dengan apa yang dijanjikan oleh Ichiru.

%%%

            Nah, bagaimana kisahnya? Apa pendapat kalian setelah membacanya? Semoga kalian menyukainya dan mendapatkan manfaat darinya.

Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa cerita ini kuberi judul Sakura Monogatari. Ya, soal itu kuserahkan pada kalian untuk menjawabnya. Mungkin, karena bercerita tentang seorang gadis bernama Sakura. Mungkin juga, karena lukisan yang dibuat sebagian besar berkisah tentang sakura. Atau mungkin?

Sebelum kalian membuat dugaan yang lain-lain, izinkan aku memperkenalkan diri terlebih dahulu. Tapi … tidak penting, ya? Kalau begitu, tidak usahlah. Apa? Kalian penasaran? Ya, ya, baiklah. Lagi pula, mungkin apa yang akan kukatakan ini dapat membantu kalian dalam menebak kenapa judul cerita ini Sakura Monogatari.

Hah? Apa? Jadi, sekarang kalian sudah tahu siapa namaku? Siapa coba? Apa? Oh … ya, ya, betul sekali! Namaku adalah … Sakura.

%%%

Rahasia di Padang Seruni

Published April 15, 2013 by Muliyatun N.

Namaku Yoshinaga Karin. Perempuan 21 tahun. Sejak kecil, tepatnya sejak berumur sebelas tahun, aku menderita penyakit aneh. Aku alergi terhadap laki-laki. Jika aku bersentuhan dengan laki-laki, maka wajah dan tanganku akan ditumbuhi bintik-bintik berwarna merah. Tentu saja hal itu tidak berlaku jika yang menyentuhku adalah ayah atau kakak laki-lakiku. Entah kenapa dan bagaimana aku bisa menderita alergi semacam itu.

Karena itu, sampai saat ini aku belum pernah menjalin hubungan dengan teman laki-laki, padahal hampir semua teman perempuanku pernah merasakan yang namanya pacaran dan berkencan dengan teman laki-laki. Aku? Entah kapan. Aku bahkan bertanya-tanya apakah aku bisa menikah.

“Kau itu seperti Putri Salju. Putri Salju terbangun dari tidur panjangnya setelah ada pangeran yang menciumnya. Kau pun begitu. Alergimu akan sembuh saat laki-laki yang menjadi cinta sejatimu datang untuk melamarmu sebagai istrinya.” Begitu kakakku, Saichi, menjelaskan.

Aku tidak tahu. Aku pun tidak yakin dengan kebenaran kata-kata Kak Saichi. Bagaimana mungkin ada laki-laki yang melamarku jika mengetahui tentang alergiku?

Sebenarnya, aku bukannya tidak tahu sama sekali mengenai alergiku. Dulu, waktu kecil, aku pernah punya teman. Shunsuke namanya. Kami adalah teman baik. Hampir setiap hari kami bersama, bermain bersama. Sampai suatu ketika, Shunsuke pergi ke luar negeri mengikuti orangtuanya. Sejak itulah alergiku muncul.

%%%

            Musim gugur yang indah. Beberapa tahun yang lalu.

Doko e ikimashou ka (kita mau pergi ke mana)?”

“Sudah, diam! Ikut saja.” Shunsuke terus berjalan dengan cepat. Aku pun hanya bisa mengikutinya sambil cemberut.

“Aduh, kenapa lewat rumput-rumput begini?” kataku mulai mengeluh.

“Cerewet!” lagi-lagi Shunsuke tidak peduli.

Aku semakin manyun, tapi tidak ada yang bisa kulakukan selain mengikutinya. Tiba-tiba, langkah Shunsuke terhenti.

“Ada apa? Kenapa berhenti? Memangnya sudah sampai?” aku memberondongnya dengan beberapa pertanyaan sekaligus.

“Kau tidak berbeda dengan kereta api,” ujar Shunsuke cuek, lalu kembali berjalan meninggalkanku.

Huh! Enak saja mengatakan aku seperti kereta api! Aku mendengus sebal, lalu mulai memerhatikan sekeliling.

Wah, bunganya banyak sekali. Walaupun yang tampak dari luar hanya rumput-rumput tinggi dan lebat, ternyata di sini tumbuh banyak bunga, terutama yang paling mencolok di musim gugur seperti ini adalah bunga seruni.

Dalam sekejap, aku berhasil melupakan kekesalanku pada Shunsuke. Justru aku berterima kasih karena dia sudah membawaku ke tempat ini. Aku pun mulai berlarian ke sana kemari, dari satu bunga seruni ke bunga seruni yang lain. Sedang asyik-asyiknya bermain, tiba-tiba suara Shunsuke memecah kesenanganku.

“Karin,” panggilnya.

“Eh?” Aku berhenti berlari dengan terkejut. “Hei, Shunsuke! Kenapa diam saja di sana? Ayo bermain! Ternyata di sini ada banyak bunga, ya? Indah sekali ….” Aku berbicara dengan semangat, lalu kembali berjalan-jalan dan menikmati pemandangan. Shunsuke tidak lagi menggangguku.

Sampai akhirnya, aku berhenti berkeliling karena kelelahan. Aku duduk sambil meluruskan kaki di atas tanah berumput. Kutatap matahari senja yang kemerahan. Sinarnya begitu indah menyinari seruni-seruni yang berwarna kuning. Sementara itu, Shunsuke berdiri di sampingku.

“Aku akan pergi,” kata Shunsuke.

“Tunggu dulu. Aku juga mau pulang, tapi aku masih ingin melihat matahari terbenam. Sebentar lagi, ya? Ngomong-ngomong, bagaimana kau menemukan tempat ini?”

“Kau …! Kenapa kau bodoh sekali?” tanyanya sedikit keras.

Aku terkejut mendengarnya. “Hei, kenapa marah-marah? Memangnya, apa salahku?” aku balas bertanya keras.

“Itu karena kau bodoh. Aku mau pergi …” ucapnya menggantung. “Aku akan pergi ke luar negeri.”

“Oh, itu …” aku mengangguk-angguk. “Kenapa tidak bilang dari tadi?” nada bicaraku kembali santai.

Dia diam saja. Tiba-tiba, aku tersadar. Apa? Dia mau pergi ke luar negeri?

“Ehm, berapa lama kau akan pergi?” aku bertanya ragu.

“Entahlah,” jawabnya sambil menerawang.

“Kapan kau akan kembali?” tanyaku lagi.

Dia menggeleng.

“Tapi, kau pasti kembali, kan?” aku nyaris menjerit.

“Aku … tidak tahu.” Dia sedikit menunduk.

Sore itu, kami kembali ke rumah masing-masing dengan saling berdiam diri. Seminggu kemudian, Shunsuke benar-benar pergi. Semenjak hari itu, aku mengalami alergi aneh jika bersentuhan dengan laki-laki.

%%%

            Musim gugur dengan segala keindahannya. Setahun yang lalu.

Semenjak Shunsuke pergi, aku masih sering mengunjungi tempat ini, terutama pada saat musim gugur, di mana banyak bunga seruni bermekaran. Bukan hanya semata-mata karena aku ingin menikmati keindahan bunga seruni, tetapi juga karena inilah tempat terakhir yang ditunjukkan oleh Shunsuke padaku sebelum dia berangkat ke luar negeri. Di sini pula Shunsuke berpamitan padaku waktu itu.

Sebenarnya, aku merasa tidak berhak dengan perasaan ini. Tapi, entah kenapa aku memiliki perasaan seperti ini. Aku dan Shunsuke sudah berteman sejak kecil. Ketika dia pergi jauh untuk waktu yang lama, dan tidak diketahui kapan tepatnya dia akan kembali, aku benar-benar merasa … kehilangan. Apalagi, tidak dapat dipastikan apakah dia akan kembali atau tidak. Namun, di dalam hati aku terus berharap semoga suatu saat nanti dia kembali.

Bunga-bunga seruni di sekelilingku yang menjadi temanku. Mereka yang menjadi tempatku berbagi selama ini. Bukannya aku tidak punya teman lain selain Shunsuke, tapi aku malu membagi hal semacam ini dengan mereka, seperti halnya aku malu dengan perasaan yang kumiliki. Karena itu, jadilah bunga seruni yang menjadi penyimpan rahasiaku. Mengapa bunga seruni? Karena bunga seruni jugalah yang menjadi saksi perpisahanku dengannya.

Aku sering bertanya-tanya kepada para bunga seruni, dan terutama kepada diriku sendiri, mengenai perasaan apa yang kumiliki ini. Apakah ini cinta? Atau sekadar perasaan sayang di antara teman? Jika benar itu cinta, maka sungguh aku merasa bersalah. Persahabatanku dengan Shunsuke … aku tidak mau merusaknya dengan perasaanku yang tak menentu. Perasaan itu tidak jelas dari mana datangnya, kapan ia datang, dan bagaimana ia datang. Aku yakin seiring dengan berjalannya waktu, rasa itu akan hilang. Sedikit demi sedikit, aku akan kembali normal dan pada saatnya nanti aku bisa sembuh total.

Akan tetapi, aku masih memiliki satu masalah, yaitu alergiku. Sebuah penyakit aneh yang dokter pun tidak tahu bagaimana cara mengobatinya.

Aku menarik napas dalam-dalam. Sampai kapan aku akan terus menderita alergi aneh ini? Dan kapan kiranya aku dapat kembali bertemu dengan Shunsuke, teman semasa kecilku?

%%%

            Musim gugur yang selalu indah. Saat ini.

Seperti biasa, sore ini aku pergi ke padang seruni, tempatku menyimpan segala rahasia batinku. Di sini aku bisa dan biasa menikmati keindahan bunga seruni, menatap syahdunya mentari senja, serta mencurahkan isi hatiku tanpa ada satu pun orang lain yang tahu.

Aku bangkit dari dudukku dan mulai beranjak meninggalkan padang seruni itu. Matahari sudah hampir tenggelam. Aku harus segera kembali ke rumah.

Di tengah jalan, mataku menangkap seseorang sedang menyeberangi jalanan yang tampak lengang. Namun, dari arah yang berlawanan denganku, tiba-tiba sebuah sedan meluncur dengan kecepatan tinggi. Orang yang menyeberang tadi sepertinya tidak menyadari kemunculan sedan yang sedang bergerak menuju ke arahnya. Sesaat, aku sempat terpaku, tapi aku pun cepat tersadar.

“AWAS!” teriakku keras-keras seraya berlari ke arah orang itu. Aku mendorong tubuhnya kuat-kuat sehingga orang tadi jatuh tersungkur. Bersamaan dengan itu, aku melompat dan jatuh di atas punggungnya. Di belakang kami, sedan itu meluncur dengan cepatnya. Syukurlah, kami berhasil selamat sampai ke tepi jalan.

Ketika aku mendengar orang itu merintih pelan, aku pun segera bangkit.

Daijoubu desu ka (Anda baik-baik saja)?” tanyaku.

“Iya,” jawab orang itu seraya mencoba duduk.

Tiba-tiba, aku melihat bintik-bintik merah muncul di punggung tanganku. Aku pun cepat-cepat berpamitan. “Maafkan saya. Lain kali, Anda harus berhati-hati. Permisi.” Aku membungkuk sedikit, langsung berbalik, dan mulai berjalan menjauh.

“Terima kasih,” ucapnya singkat. Kurasa, orang itu heran karena sejak tadi aku terus membelakanginya dan tidak berbalik menghadapnya.

“Itu … itu … bukan apa-apa,” sahutku gugup. “Saya permisi,” sekali lagi aku kembali berpamitan, kemudian mulai melangkah semakin cepat.

Sesampainya di rumah, bintik-bintik di kulitku sudah hampir menghilang. Aku mengamati wajahku di cermin. Sebenarnya, alergi macam apa ini? Alergi ini tidak terasa gatal atau perih. Bintik-bintik merah tiba-tiba muncul di kulitku saat aku bersentuhan dengan laki-laki. Tidak lama setelah itu, bintik-bintik tersebut akan menghilang dengan sendirinya. Aneh sekali.

“Karin,” panggil Kak Saichi disertai dengan ketukan di pintu kamarku.

“Ada apa, Kak?” tanyaku malas.

“Aku boleh masuk tidak?” dia malah balas bertanya.

“Masuk saja.”

Sebentar kemudian, Kak Saichi masuk dan menatap bayanganku di cermin. Sisa-sisa bintik-bintik itu masih ada.

“Alergimu kambuh lagi?” tanyanya.

Aku mengangguk sekaligus menunduk.

“Hei, jangan cemberut begitu. Jelek!”

Aku malah mengerucutkan bibir.

“Kau ini ….” Kak Saichi mengacak rambutku. “Ada orang yang mencarimu. Dia menunggu di depan.” Setelah mengatakannya, Kak Saichi langsung beranjak dari duduknya.

Dare (siapa)?” tanyaku ingin tahu.

“Temui saja sana,” jawabnya cuek kemudian berlalu dari kamarku.

Aduh siapa, sih, yang mencariku? Keluhku dalam hati.

Aku menyisir rambut dengan jari kemudian merapikan bajuku sedikit. Saat itulah aku menyadari lecet di lengan dan sikuku akibat terjatuh tadi. Pantas sejak tadi terasa sakit. Sudahlah, diobati nanti saja.

Aku lalu pergi ke ruang depan untuk menemui orang yang katanya mencariku. Di sana, aku mendapati orang itu tengah berdiri membelakangiku. Siapa, ya? Pertanyaan itu kembali mengusik benakku.

“Maaf, Anda mencari saya?” tanyaku sopan.

Di luar dugaan, orang itu menyahut tanpa berbalik untuk melihatku. “Kau sedikit berubah,” katanya.

Aku mengerutkan kening. “Maaf, ya? Anda ini siapa?”

“Hmm …” dia bergumam. “Kau mudah sekali melupakanku.”

Jawabannya berbelit-belit sekali. “Jadi, sebenarnya, apa keperluan Anda?” Kali ini aku bersuara lebih keras.

Tidak kusangka, orang itu berbalik menghadapku. Dan … aku tidak tahu harus bagaimana. Selama ini, aku selalu memikirkannya. Aku berharap dia cepat kembali agar aku bisa bersama-sama dengan dia lagi. Tapi sekarang, setelah dia muncul di hadapanku, entah kenapa aku merasakan perasaanku terlalu datar. Di saat aku seharusnya terlonjak gembira dan melompat-lompat senang, aku justru merasa sangat biasa. Hatiku rasanya hambar.

“Kau …” ucapku terputus. Selama beberapa waktu, aku tidak sanggup berkata-kata. Dia juga diam saja. “Jadi, kau kembali?”

Dia mengangguk sedikit.

Itsu kimashita ka (kapan kau datang)?” tanyaku lagi.

“Tadi pagi.”

“Oh, begitu ….”

Interaksi ini benar-benar kaku. Jarak dan waktu yang pernah memisahkan kami, ternyata telah membuat kami demikian canggung. Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu.

“Ehm, kenapa tangan dan wajahmu lecet-lecet begitu?”

“Tadi terjatuh,” jawabnya singkat, kemudian melirikku. “Kau juga terluka,” ujarnya.

“Oh, ini ….” Aku melihat sikuku. “Aku juga baru saja terjatuh.”

Diam beberapa saat. Lalu mendadak, seolah ada yang mengomando, aku dan dia mengangkat wajah bersamaan dan saling menatap. Jadi, tadi ….

Tadi aku memang belum sempat melihat wajah orang yang hampir tertabrak itu karena dia jatuh menelungkup. Ketika dia mulai berdiri, aku sudah berbalik membelakanginya karena bintik-bintik di kulitku mulai bermunculan.

Selama aku berpikir tentang hal itu, dia pun hanya diam. Barangkali, pemikiran yang sama juga tengah memenuhi kepalanya. Aku harus secepatnya mengakhiri kekakuan yang sangat tidak menyenangkan ini.

“Aku buatkan minuman dulu.”

“Tidak usah,” tolaknya cepat. “Aku mau pulang. Sampai jumpa.” Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung berlalu.

“Sampai jumpa,” sahutku lirih hingga hanya terdengar olehku. Dia kembali. Seharusnya aku senang, tapi kenapa malah begini?

%%%

            “Kenapa tiba-tiba mengajakku ke sini?” tanyaku dalam perjalanan menuju padang seruni.

“Tempat ini tidak banyak berubah. Hanya jalan setapak itu yang baru. Dulu belum ada.” Dia malah mengatakan hal lain yang bukan merupakan jawaban dari pertanyaanku.

Ah, sudahlah. Dia pasti tidak tahu kalau jalan setapak yang dimaksudkannya itu tidaklah dibuat. Jalan itu terbentuk dengan sendirinya karena seringnya aku melewatinya. Ingin sekali kukatakan bahwa selama dia pergi, aku sering mengunjungi tempat ini. Seruni-seruni yang tumbuh di sini yang menjadi saksi dan menjadi penjaga rahasiaku selama bertahun-tahun. Hari ini pun seruni-seruni itu tetap indah seperti kemarin dan seperti hari-hari serta tahun-tahun yang telah lewat.

“Kau ingat tempat ini?” tanyanya.

Tentu saja! Aku menyahut ketus di dalam hati. Tapi, aku hanya mengangguk.

“Kedatanganku ke sini tentunya bukan tanpa sebab,” kembali dia berbicara.

Aku diam mendengarkan.

“Aku ingin tahu, apakah aku ini temanmu?” tanyanya lambat-lambat.

Aku terkejut mendengar pertanyaannya. “Kenapa bertanya seperti itu? Sudah jelas kalau kau adalah temanku.”

“Lalu, seperti apa pertemanan kita?” dia bertanya lagi.

“Tentu saja seperti teman. Ya, berteman.” Aku jadi bingung sendiri. “Sebenarnya, apa maksud dari pertanyaanmu itu? Kita ini teman. Kita berteman. Bukankah kita sudah berteman sejak kecil?” aku berbicara tak tentu arahnya.

“Tapi, kita tidak mungkin terus begini, kan?”

“Eh? Apa maksudmu?” tanyaku dengan bingung.

Tiba-tiba, dia menatapku tajam. “Kupikir, kau sudah berubah. Ternyata, kau masih sama bodohnya seperti dulu.”

Mendengar pernyataannya, keningku mulai berdenyut-denyut karena kesal. “Bukannya aku yang bodoh, melainkan perkataanmu yang tidak jelas!” aku balas membelalakkan mataku ke arahnya. Selama beberapa saat, kami hanya saling melotot. Kemudian, hampir bersamaan, kami membuang muka dan membalikkan badan. Aku menyedekapkan kedua tanganku di dada. Kesal.

“Yoshinaga Karin,” dia memanggil namaku lengkap.

“Ada apa?” sahutku ketus, masih sambil memunggunginya.

“Yoshinaga Karin,” dia mengulangi memanggil namaku. Kali ini, dengan tekanan di setiap suku katanya.

“Ada apa?” aku pun kembali menyahut dengan sedikit keras seraya membalikkan badan. Ternyata, saat itu dia telah berdiri tepat di belakangku. Karena terlalu terkejut, aku hampir terjatuh ke belakang, tapi dia memegangiku. Segera aku tersadar. “Jangan sentuh! Jangan sentuh!” aku berteriak-teriak sambil berusaha melepaskan pegangannya. Kakiku berjalan mundur cepat-cepat hingga akhirnya aku tersandung dan benar-benar jatuh.

“Hei, kenapa?” dia berjalan mendekatiku dan bermaksud menolongku.

“Jangan mendekat!” teriakanku membuat gerakannya terhenti. “Pergi dari sini!”

“Kau tidak berhak berbicara seperti itu.”

Oh, iya. Benar juga. Tapi, demi melihat bintik-bintik merah mulai muncul di tanganku, aku pun segera berdiri dan berlari meninggalkannya.

Matte yo (tunggu)!”

Aku tidak menghiraukan seruannya, tapi terus berlari. Apalagi, dia sepertinya mengejarku. Aku semakin cepat berlari.

DUKKK!

Kakiku terantuk batu. Aku jatuh terjerembap. Bagaimana ini? Di saat aku masih mencoba untuk duduk, tiba-tiba dia sudah di dekatku dan membantuku berdiri. Dia memegangiku erat sekali sehingga aku tidak bisa menghindar darinya. Aku hanya bisa menyembunyikan wajahku.

“Jangan pergi lagi,” ucapnya tenang, membuatku terkejut. “Kau … kenapa?” dia mengamati wajahku.

“Ini ….” Aku masih berusaha memalingkan wajahku darinya. “Aku alergi terhadap laki-laki,” jawabku pelan.

Tadinya, aku mengira dia akan menyentakkan tanganku, tapi ternyata dia tetap bersikap tenang. Dia membebaskanku, lalu membungkuk untuk melepas sepatunya.

“Pakailah. Tali sandalmu putus,” ujarnya seraya meletakkan sepasang sepatunya di dekat kakiku.

“Tidak usah ….”

“Cepat pakai!” perintahnya tegas.

Akhirnya, meskipun agak ragu, aku memakai sepatu yang ukurannya agak kebesaran di kakiku itu. Dia mengantarku sampai rumah.

….

Tidak lama setelah itu, pernikahan antara aku dan Shunsuke dilangsungkan. Meskipun sudah mengetahui tentang alergiku, Shunsuke tetap menjalankan niatnya untuk menikahiku. Memang itulah yang menjadi alasannya kembali ke Jepang.

Sungguh aneh bahwa alergiku sembuh dengan sendirinya setelah aku menikah. Aku menyadarinya ketika Shunsuke menyarungkan cincin pernikahan ke jemariku, juga ketika dia mencium keningku di hari pernikahan kami. Saat itu, tidak timbul lagi bintik-bintik merah di kulitku. Syukurlah.

Ya, barangkali alergi itu muncul memang untuk menjagaku supaya aku tidak bergaul bebas dengan sembarang laki-laki. Dengan begitu, aku bisa menyerahkan diriku seutuhnya kepada suamiku. Dan, hubungan di antara kami adalah hubungan yang indah serta terikat oleh pernikahan yang sah.

Hmm … Shunsuke memberiku seikat bunga seruni di hari pernikahan kami. Mungkin, karena dia juga menyadari bahwa bunga seruni adalah bunga yang menjadi saksi perpisahan dan pertemuan kami. Seruni juga yang menyimpan banyak rahasiaku. Dan bukan tidak mungkin, seruni pula yang telah menyimpan banyak rahasianya.

%%%

Murasaki Ayame

Published March 20, 2013 by Muliyatun N.

Dia gadis yang manis, cantik. Tubuhnya tidak tinggi, juga tidak gemuk. Bisa dibilang, dia itu kecil. Tidak masalah juga bila dia disebut mungil.

“Kalau punya tubuh kecil, tidak perlu merasa rendah diri. Tubuh kecil itu bisa dipakai bergerak ke sana kemari dengan mudah. Lihat ini!” Ayame dengan lincah menuju salah satu sisi ruangan, lalu dengan gesit berlari ke seberang ruangan. Dia tengah menghibur temannya yang sedang bersedih gara-gara tubuhnya yang tidak tinggi diejek oleh teman laki-laki yang disukainya. “Nah, menyenangkan, bukan?” tanyanya seraya tersenyum.

Melihat kelakuan Ayame, mau tidak mau, temannya itu pun tertawa kecil. Untuk beberapa saat, mereka cekikikan.

Ya, gadis itu bernama Ayame. Murasaki Ayame. Saat ini, dia duduk di bangku kelas 2 SMP. Dalam kesehariannya, gadis itu selalu ceria. Ehm, tidak selalu juga sebenarnya. Yang namanya manusia, kan, tempatnya salah dan lupa. Begitu pula dengan Ayame. Kadang-kadang, dia juga merasa sedih, marah, kesal, dan sebagainya. Namun, hal itu jarang terjadi. Ayame selalu berusaha memandang segala sesuatu dengan cara yang positif. Karena itu, lebih tepat jika menyebutnya sebagai gadis yang ceria.

Pernah suatu ketika, ada yang mengatakannya sebagai gadis kecil yang keberatan rambut. Tapi, Ayame malah dengan bangga menjawab, “Rambut panjang membuktikan bahwa aku ini benar-benar perempuan.”

Kontan saja orang yang mengejeknya itu terlongo. Dengan tidak peduli, Ayame berlalu begitu saja meninggalkan orang itu.

Menurut Ayame, zaman sekarang semua serba membingungkan. Laki-laki bergaya seperti perempuan, sementara perempuan bergaya seperti laki-laki. Buktinya, laki-laki banyak yang memanjangkan rambut dan memakai anting seperti perempuan. Perempuan juga demikian. Banyak yang memotong rambutnya seperti laki-laki dan bergaya seperti laki-laki dengan memakai celana. Ayame, sedapat mungkin dia masih mengenakan rok. Tapi, di balik roknya selalu dia rangkapi celana supaya tetap dapat bergerak dengan aman.

Begitulah Ayame. Meskipun polos, dia kadang-kadang memiliki pemikiran-pemikiran bijak yang tak terduga bahkan oleh dirinya sendiri.

%%%

            Dia adalah gadis yang cantik, manis tepatnya. Dia juga unik. Seperti bunga iris. Bunga iris itu unik karena bentuknya memang unik. Selain itu, warnanya pun menarik. Misalnya, bunga iris yang memiliki motif seperti kulit harimau.

Kalau Ayame itu dikatakan unik, mungkin karena hobinya, juga keinginan-keinginannya. Lihat saja catatan berikut. Ini adalah tulisan yang dibuat oleh Ayame.

            Namaku Murasaki Ayame. Aku lahir pada tanggal 14 Februari. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki. Sejak lahir sampai sekarang, aku tinggal di Kyoto, kota yang selalu indah sepanjang tahun. Bagaimana tidak indah? Bayangkan saja, ada salju di musim dingin, bunga sakura mekar di musim semi, bukit-bukit yang sejuk di musim panas, dan pemandangan daun-daun yang berwarna-warni di musim gugur.

            Makanan kesukaanku adalah cokelat, sementara hobiku adalah memandang langit. Konon katanya, aku ini sedang merindukan pelangi. Karena itu, aku suka melihat langit. Waktu kutanya kenapa aku merindukan pelangi, katanya hal itu dikarenakan namaku. Ayame, kan, artinya bunga iris. Dalam bahasa Yunani, iris berarti pelangi. Padahal, sebenarnya aku selalu senang memandang langit, seperti apa pun rupanya. Kalau bisa melihat pelangi, hal itu lebih menyenangkan lagi karena melihat pelangi merupakan kesempatan yang langka.

            Mengenai apa yang tidak kusukai apa, ya? Aku tidak suka pada pertengkaran, perkelahian, apalagi peperangan. Soalnya, aku ini cinta damai. Mungkin tidak, ya, suatu hari nanti aku dipercaya untuk mengemban sebuah misi perdamaian? Biar tidak ada perang lagi di dunia ini. Lalu, dunia akan menjadi tempat yang indah, damai …. Betapa senangnya!

            Soal cita-citaku, sebenarnya aku masih bingung ingin menjadi apa. Yang pasti, aku tidak ingin menjadi dokter. Aku pernah ingin menjadi seorang profesor, tetapi tidak jadi karena menurutku, pekerjaan sebagai profesor itu terlalu serius. Pasti tidak cocok dengan diriku yang seperti ini.

            Kemudian, aku ingin menjadi guru TK karena setiap hari bisa bermain bersama anak kecil. Hingga saat ini, aku masih mempertimbangkan cita-citaku yang satu itu.

            Namun, satu yang pasti adalah bahwa aku ingin berkeliling dunia. Aku ingin mengelilingi bumi. Yiiihaaa!!!

            Selain itu, aku juga ingin menjadi penulis novel. Yang menginspirasiku dalam hal ini adalah Murasaki Shikibu, seorang wanita yang menjadi penulis novel, penyair, sekaligus pembantu pengadilan kekaisaran pada masa periode Heian di Jepang. Novelnya itu sangat terkenal, berjudul Genji Monogatari (Hikayat Genji). Suatu saat nanti, aku pun akan menjadi penulis novel yang hebat seperti dia. Entah kenapa, aku begitu terinspirasi olehnya. Mungkin, karena kemiripan namaku dengannya? Alasan yang tidak begitu penting, ya?

Nah, benar, kan? Catatan Ayame itu memang unik, seperti orangnya.

%%%

            Dia seorang gadis manis yang cantik. Dan sekarang, gadis manis itu mulai memasuki usia-usia remaja, masa-masa yang penuh warna.

“Aduh!” Ayame mengaduh cukup keras sambil memegangi kepalanya. Di belakangnya, tampak Gon berlari menjauhinya sambil tertawa-tawa setelah berhasil menarik-narik rambut panjang Ayame yang selalu dikepang rapi.

“Gon, berhenti menarik rambutku!” seru Ayame sembari mengelus-elus kepalanya.

“Makanya, jangan suka memakai rambut palsu!” begitu selalu Gon memberikan alasan.

“Sudah kukatakan, ini bukan rambut palsu. Ini rambutku yang asli.” Ayame membela diri.

“Yang benar?” kembali Gon menggodanya.

“Tentu saja!”

“Coba kubuktikan.” Kemudian, sambil mengatakan hal itu, Gon pun menarik-narik rambut Ayame. Ayame yang bersusah payah melindungi rambutnya, malah ditertawakan oleh Gon.

Seperti itulah peristiwanya terjadi berulang-ulang. Pada awalnya, Gon memang benar-benar tidak percaya bahwa gadis bertubuh kecil yang bernama Ayame itu memiliki rambut sepanjang dan selebat itu. Dia pun mulai mengusilinya dengan menarik rambut Ayame tanpa ampun. Melihat Ayame kesakitan, Gon masih belum juga percaya. Baru setelah teman-teman Ayame waktu di SD memberikan kesaksian mengenai keaslian rambut Ayame, Gon mau percaya.

Akan tetapi, rupanya Gon mulai menikmati pekerjaannya mengusili Ayame. Terlebih lagi, Ayame memiliki tubuh kecil yang lincah. Ayame juga suka bergerak ke sana kemari dengan cepat. Hal itu semakin menarik bagi Gon untuk mengusilinya dengan cara menarik-narik rambut gadis mungil itu. Tentu saja menariknya tidak keras-keras sampai menyakiti, tapi tetap saja hal itu sangat mengganggu Ayame.

“Aman … aman ….” Ayame terlebih dahulu mengintip ke dalam kelas sebelum memasukinya. Soalnya, yang namanya Gon itu, kalau melihat Ayame, pasti langsung ingin menarik rambutnya. Jadi, Ayame sedapat mungkin menghindari pertemuan dengan Gon.

Baru saja Ayame memasuki kelas dan duduk di kursinya, tiba-tiba Gon juga masuk ke kelas.

“Gawat ….” Ayame cepat-cepat menyembunyikan rambut dan wajahnya. Biasanya, tipuan mudah seperti ini langsung diketahui oleh Gon. Namun, kali ini Ayame heran karena Gon tidak menghampirinya seperti biasa.

Pelan-pelan, Ayame mengangkat kepala. Sedikit demi sedikit, matanya terbuka. Lalu, tampaklah di hadapannya, tepatnya di sisi mejanya, sesosok tinggi mengenakan kemeja dan celana rapi. Gon!

Buru-buru Ayame menyembunyikan wajahnya lagi. Tapi, sebelum sempat, Gon sudah berlalu darinya setelah menyelipkan selembar kertas di balik tas Ayame. Ayame yang menyadari hal ini, segera menegakkan badan dan memeriksa isi kertas tersebut. Usai membaca, Ayame mengerutkan keningnya sampai sepasang alisnya bertaut. Bibirnya mengerucut. Rupanya, dia tengah berpikir keras.

Apa gerangan yang terjadi?

Pulang sekolah hari ini, Ayame menuju lapangan bola sekolah. Dia harus berlari-lari karena ini sudah lewat dari waktu yang ditentukan.

Ayame sampai di lapangan sekolah dengan terengah-engah. Dia sedikit membungkuk sambil memegangi lututnya untuk mengatur napas. Di saat Ayame masih sibuk menenangkan diri, tiba-tiba terdengar suara seseorang.

Osoi (kau telat).”

“Hah?!” Ayame berbalik dengan cepat. Dia benar-benar terkejut. Tampak olehnya seseorang sedang duduk bersandar pada pohon dengan muka tertutup topi. Perlahan, orang itu menarik topi yang menutupi wajahnya. “Gon …” gumam Ayame pelan.

Gon hanya tersenyum tipis. Dia lalu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Ayame.

Dou shita no (ada apa)? Kenapa memanggilku ke sini?” tanya Ayame sambil menarik rambutnya perlahan-lahan, berusaha menyembunyikannya dari jangkauan Gon.

Meskipun sudah berhati-hati, ternyata gerakan Ayame masih tertangkap oleh mata Gon yang awas. Mengetahui hal itu, Gon tertawa pelan. “Dasar payah!”

“Kau ini! Enak saja mengatakan aku payah.”

“Memang benar, kan? Kau payah ….”

Ayame mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya.

“… bodoh ….”

Dahi Ayame mulai berdenyut-denyut dan sepasang alisnya menyatu di tengah-tengah dahi.

“… cerewet ….”

Sekarang, rahang Ayame yang terkatup rapat. Giginya beradu dan bergemeletuk menahan emosi.

“… suka mencampuri urusan orang lain ….”

“Jadi, sebenarnya apa maksudmu memanggilku ke sini? Apa hanya untuk mendengarkanmu menghinaku?” Ayame berteriak memotong perkataan Gon.

“Tapi, aku suka padamu,” ujar Gon melanjutkan perkataannya tanpa terpengaruh sedikit pun oleh jeritan Ayame.

“Eh?” Ayame terkejut. Dia tidak lagi kesal. Alisnya yang tadi bertaut bahkan kini terangkat tinggi-tinggi. Kepalan tangannya mulai mengendur. Lalu tiba-tiba, mata Ayame berbinar-binar, bahkan berkaca-kaca karena terharu. Sepasang pipinya dihiasi rona merah yang membuatnya semakin manis. Dia menyatukan telapak tangannya di dekat wajah. Kemudian, dengan berseri-seri dia berujar, “Ternyata, persahabatan itu memang indah, ya?”

Mendengar perkataan Ayame, Gon hanya termangu. Sepertinya, dia tidak memahami maksudku, pikirnya.

“Jadi, bagaimana?” tanya Gon berusaha tidak peduli.

“Apanya?” Ayame balas bertanya, polos.

Gon mulai kehabisan kesabaran. “Bagaimana pendapatmu tentang aku?” tanyanya dengan wajah sedikit memerah.

“Oh, itu ….” Ayame tertawa kecil. “Soal itu, sudah jelas, kan? Tidak perlu dipertanyakan lagi. Aku suka pada Gon karena aku suka berteman dengan siapa saja. Apa hal seperti itu saja Gon tidak mengerti? Padahal, Gon, kan, murid yang paling pintar di kelas. Ternyata, memahami hal semudah itu saja Gon tidak bisa. Kadang-kadang, Gon memang payah, ya?” Ayame berbicara sambil mengacung-acungkan telunjuknya seperti seorang guru yang sedang menerangkan pelajaran kepada murid-muridnya.

“Jangan menyebutku payah!” Kali ini, Gon yang berteriak.

Ayame hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Gon. “Baiklah, baik …. Karena sekarang kita sudah menjadi teman baik, bagaimana kalau kita merayakannya? Aku akan mentraktir Gon makan es krim. Gon suka rasa apa?”

Gon mendesah pelan. Gadis ini …. Dia tidak mengerti juga.

“Gon, kau suka rasa apa?” Ayame mengulangi pertanyaannya.

“Cokelat,” jawab Gon singkat.

“Hah?!” seru Ayame membuat Gon terkejut. Apalagi, Ayame mengatakannya dengan disertai gerakan mencondongkan tubuh ke arah Gon. “Benarkah?” tanyanya seperti tidak percaya.

Gon mengangguk enggan. “Memangnya kenapa? Tidak perlu berteriak seperti itu, kan?”

“Iya, iya, maaf ….” Ayame tertawa sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Kebetulan sekali kalau begitu. Aku juga suka cokelat. Sekarang, kita pergi makan es krim. Aku tahu tempat yang bagus untuk makan es krim. Ayo!” Ayame langsung berjalan dengan riang mendahului Gon.

Gon hanya bisa menatap punggung Ayame yang menjauhinya perlahan-lahan dengan perasaan tidak menentu. Gadis bodoh. Dia benar-benar tidak mengerti. Dasar payah …. Gon tersenyum tipis.

“Gon, kenapa masih di sana?” Ayame membalikkan badan dan berseru dari jauh seraya melambaikan tangannya.

Pelan, Gon melangkah menyusul Ayame. Ya, mungkin memang lebih baik seperti ini , pikirnya lagi.

Melihat Gon sudah mulai berjalan menyusulnya, Ayame pun melanjutkan langkah-langkahnya. Dia tidak menyadari bahwa tubuh tinggi Gon dengan langkahnya yang lebar-lebar telah menyusulnya dengan cepat.

“Biar aku yang traktir,” kata Gon.

“Benarkah? Wah, senangnya! Terima kasih, ya, Gon ….”

Sebentar kemudian ….

“Aduh! Gon … sakit!”

Gon hanya tertawa-tawa masih sambil menarik-narik rambut Ayame.

“GON!!!”

%%%

            Murasaki Ayame. Itulah namanya. Dia gadis manis yang polos. Kadang-kadang, tanpa disadarinya, dia telah mencuatkan ide-ide dan pemikiran yang sederhana, namun sesungguhnya sangat bijaksana. Ayame juga adalah seorang gadis yang periang meskipun adakalanya dia sedih, marah, atau kesal.

Hal yang tidak disukainya adalah pertengkaran maupun peperangan karena Ayame sangat mencintai perdamaian. Dia mempunyai keinginan agar suatu saat nanti dapat menjadi penulis novel yang hebat seperti Murasaki Shikibu. Dia berharap, melalui tulisannya, dia bisa menginspirasi manusia-manusia di seluruh dunia untuk bersama-sama mewujudkan perdamaian.

Dialah Ayame. Dia memang mirip dengan bunga iris yang melambangkan kebijaksanaan, persahabatan, sekaligus harapan.

%%%

Remember You, Jasmine

Published February 27, 2013 by Muliyatun N.

Pagi yang cerah. Namun, suhu udara terasa dingin. Seperti biasa, pagi-pagi begini aku berjalan-jalan di kebun mungilku untuk menikmati udara segar dan pemandangan tumbuh-tumbuhan hijau yang menyejukkan mata.

Hmm … aku menghirup udara dalam-dalam. Selain masih bersih, udara pagi ini juga tercium harum. Hal itu dikarenakan adanya tumbuhan bunga melati di kebunku. Kebetulan, hari ini ada bunganya yang sedang mekar. Sebagian bunganya yang lain masih kuncup atau baru setengah mekar. Jasminum sambac, itulah nama latinnya. Tanaman ini memiliki bunga-bunga mungil berwarna putih dengan bau yang sangat harum.

Menghirup aroma melati, memandang bunga melati, atau sekadar berbicara tentang melati, selalu mengingatkanku kepada seseorang. Melati selalu membawa anganku menjelajah ke masa lalu, masa-masa ketika aku baru mengenalnya, seorang gadis bernama Jasmine.

%%%

            Aku memasukkan koin ke dalam mesin penjual minuman kaleng dan … keluarlah sekaleng jus buah.

Sumimasen (permisi) …” satu suara menyapa dari sampingku. Aku menoleh dengan terkejut bercampur heran. Tampak di hadapanku seorang gadis mengenakan pakaian pasien seperti yang kukenakan.

“Hai, aku pasien di sini!” sapanya ceria. Benar-benar tidak mirip orang sakit. “Kakak pasti pasien di sini juga, kan? Pasti iya. Aku tahu dari pakaian Kakak.” Gadis itu bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya. Aku sampai bingung dibuatnya.

“Kakak …” tiba-tiba dia berbisik. “Kakak masih punya koin tidak?” tanyanya.

Meski masih sedikit bingung, aku mulai mengerti bahwa gadis itu ingin membeli minuman kaleng, tetapi tidak memiliki koin.

“Kau mau membeli minuman, ya?” aku balas menanyainya.

Dia menggaruk-garuk belakang kepalanya sambil tersenyum-senyum. “Iya …” jawabnya malu-malu.

“Kau mau apa?” tanyaku lagi.

“Kakak mau membelikanku, ya?” Mata sipitnya melebar.

Aku mengangguk sedikit sembari menyunggingkan senyum.

Dia malah cengengesan. “Terima kasih, ya, Kak. Kalau begitu, sama dengan punya Kakak saja.”

Aku tersenyum geli melihat tingkahnya, lalu kembali memasukkan koin, dan keluarlah kaleng minuman yang sama dengan minuman yang kini berada di tanganku. “Ini ….” Aku menyerahkan minuman untuk gadis itu.

Gadis itu menerima dengan kedua tangannya seraya membungkuk. “Terima kasih ….”

“Sudahlah, lupakan. Oh, iya. Namaku Megumi. Salam kenal.” Sambil berjalan melewati koridor rumah sakit, aku memperkenalkan diri.

“Oh, namaku Jasmine. Sampai lupa memperkenalkan diri. Soalnya, aku haus sekali ….” Lagi-lagi, gadis itu nyengir. “Kak, ayo kita duduk di sana!” tunjuknya pada sebuah bangku. Aku pun mengikutinya.

Jasumin?” aku mengulangi namanya.

Nope, Jasmine.” dia mengoreksi ucapanku.

Jasumin,” aku mencoba menyebutkan namanya lagi, tapi gadis itu masih menggeleng-geleng. Jadilah beberapa saat kemudian aku menjalani kursus kilat agar dapat mengucapkan nama gadis itu dengan benar.

“Jasmine,” pelan-pelan aku mengeja namanya.

Gadis itu terlihat senang. “Good!” pujinya sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.

Aku tertawa melihatnya. “Jasumin sama saja dengan Jasmine,” jelasku. Huruf Jepang terdiri atas huruf vokal dan suku kata-suku kata. Tidak terdapat huruf konsonan kecuali “n”. Karena itu, Jasmine diucapkan menjadi Jasumin.

“Memang benar, tapi bagiku tetap tidak sama!” dia ngotot.

Aku kembali tertawa. “Ya, ya, baiklah, Jasmine.” aku menyebut namanya hati-hati supaya tidak salah lagi.

Selanjutnya, kami pun mulai ngobrol-ngobrol. Dari pembicaraan kami, aku tahu bahwa Jasmine masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Namun, liburan musim panas kali ini tidak bisa dia nikmati karena sehari-hari dia habiskan untuk menjalani perawatan di rumah sakit. Jasmine mengalami gagal jantung.

Pantas saja tubuhnya begitu kurus. Baju pasien yang dikenakannya pun tampak terlalu besar. Wajah gadis itu tirus sementara bibirnya berwarna biru keunguan.

“Tempat tinggalku sudah pindah. Sekarang, di sinilah rumahku,” ujarnya santai. “Sebenarnya, aku direncanakan untuk menjalani operasi, tapi masih dua minggu lagi. Hhh … membosankan sekali, kan? Makanya, aku sering berjalan-jalan. Seperti tadi, aku sampai kehausan. Tapi, aku lupa tidak membawa koin. Syukurlah, aku bertemu dengan Kakak.” Jasmine bercerita dengan semangat, sama sekali tidak tampak bahwa dia seorang pasien gagal jantung.

Aku sendiri sudah hampir sembuh. Aku dibawa ke rumah sakit ini setelah aku dan sepedaku menabrak pohon besar akibat menghindari tabrakan dengan sebuah truk dalam perjalanan pulang dari toko. Kepalaku mengalami benturan yang cukup keras. Setelah diperiksa, syukurlah semua baik-baik saja. Aku sempat tak sadarkan diri selama dua hari. Sekarang, aku tinggal menjalani proses pemulihan. Mungkin, besok atau lusa aku sudah diperbolehkan pulang.

“Kalau Kakak pulang, aku pasti kehilangan ….” Mendadak, Jasmine berubah sedih.

“Oh, ya?” aku seperti tidak percaya. Aku dan dia, kan, baru berkenalan hari ini. Tepatnya, beberapa saat yang lalu.

Jasmine mengangguk. “O-me ni kakarete ureshii desu (aku senang berkenalan dengan Kakak) …” ujarnya lagi dengan sungguh-sungguh. Kepalanya tunduk.

Dari cara bicaranya, aku tahu bahwa Jasmine kesepian. Tapi, itu wajar. Seharusnya, saat ini dia bersama-sama dengan teman-temannya, belajar, mengerjakan PR musim panas, bermain, berlibur ….

Perlahan, aku mengusap kepalanya. “Yang penting, sekarang aku masih di sini. Iya, kan?” aku mencoba menghiburnya.

Jasmine masih menunduk. Sebentar kemudian, akhirnya dia mengangkat kepalanya dan tersenyum. Dia pun kembali melanjutkan ceritanya.

Jasmine adalah anak tunggal. Dia keturunan campuran Jepang-Inggris. Ibunya seorang wanita Jepang, sementara ayahnya orang Inggris.

“Waktu kecil, aku pernah tinggal di Inggris. Dakara, Eigo wo kanari umaku hanashimasu (karena itu, aku berbahasa Inggris dengan cukup baik).”

Oh, begitu ….

Ya, kalau dilihat-lihat, Jasmine ini memang lebih mirip orang Eropa daripada orang Asia. Rambutnya ikal dan kecokelatan, kulitnya putih pucat, dan hidungnya mancung. Hanya, dia memang sangat kurus. Barangkali, satu hal yang membuat dia seperti orang Jepang adalah mata sipitnya.

Sudah sejak kecil Jasmine keluar masuk rumah sakit karena penyakit yang dideritanya. Ayahnya pergi begitu saja meninggalkan Jasmine dan ibunya karena tidak bisa menerima kenyataan putri semata wayangnya sakit-sakitan. Keterlaluan sekali orangtua seperti itu.

Saat ini, Jasmine sudah pasrah. Namun, dia tidak putus asa. Dia hanya mencoba menikmati kesempatan hidup yang masih diberikan kepadanya dan berusaha memanfaatkan waktu yang dia miliki sebaik-baiknya.

“Sebenarnya, aku juga sedih dan takut. Tapi, apa gunanya menangis sepanjang waktu dan meratapi nasib? Lebih baik aku tersenyum pada orang-orang yang kutemui. Dengan begitu, orang lain menjadi senang dan hatiku pun tenang.” Saat mengatakan hal itu, dia mengembangkan kedua tangannya seolah menggambarkan kelapangan jiwanya.

Aku menatapnya takjub. Apa yang dikatakan Jasmine itu hanyalah sesuatu yang sederhana, tetapi sangat bijaksana. Hal-hal kecil namun berharga memang seringkali muncul dari mulut dan hati anak-anak seperti Jasmine. Seorang anak yang masih polos.

“Wah, gawat!” seruan Jasmine membuatku sadar dari renunganku. “Kak, aku harus kembali ke kamar. Kalau besok Kakak belum pulang, kita ngobrol-ngobrol lagi, ya? Sampai jumpa!” Jasmine melambaikan tangannya dan tersenyum cerah. “Terima kasih untuk minumannya, ya, Kak ….”

Dan Jasmine pun berlalu, meninggalkanku yang masih terpaku di tempat dudukku.

Keesokan harinya, kembali kami bertemu. Jasmine memaksa untuk berjalan-jalan di halaman rumah sakit. Sebenarnya, aku enggan mengajak Jasmine berjalan-jalan sampai ke halaman. Aku mencemaskan kondisinya.

“Memangnya, tidak apa-apa?” tanyaku khawatir.

“Kenapa?” Jasmine tertawa pelan. “Kakak takut aku mati di jalan, ya?”

“Kau ini …” sergahku gusar.

Jasmine kembali tertawa. “Kakak tenang saja. Aku sudah minta izin pada Suster Kikyou.”

Mendengar hal itu, aku pun sedikit lega. Sembari berjalan, aku mencoba berbicara padanya. “Jasmine, ayo ke sana!”

“Ayo!” sahut Jasmine antusias.

Tempat yang kumaksud itu adalah sebuah bangku di bawah pohon sakura. Kami duduk di sana. Semilir angin terasa hangat.

“Ehm …” aku sengaja berdehem untuk menarik perhatian Jasmine. “Besok, aku akan meninggalkan rumah sakit ini,” ucapku hati-hati.

Hontou desu ka (benarkah)?” Jasmine menoleh kepadaku.

Aku mengangguk sedikit.

Sore de ii desu ka (itu bagus, kan)?” ujarnya seraya tersenyum. “Watashi nara itsu desu ka (kalau aku … kapan, ya)?” dia bertanya seperti kepada dirinya sendiri, kemudian cekikikan.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku ingin menghiburnya, tapi aku juga tidak mungkin berbohong padanya.

Hari berikutnya, aku benar-benar meninggalkan rumah sakit. Meskipun demikian, aku masih sering mengunjungi Jasmine setelah pulang dari menjaga toko. Jasmine selalu tampak ceria dan bersemangat setiap kali aku datang.

Namun, hari itu ….

“Ini, aku bawakan bunga melati supaya ruanganmu harum.” Aku meletakkan beberapa kuntum melati di atas meja di samping tempat tidurnya.

“Terima kasih, Kak. Sayang sekali, hari ini aku tidak bisa berjalan-jalan …” ucapnya sedih. Pada lengannya tertancap jarum infuse, sementara selang oksigen terpasang di hidungnya.

Kata Jasmine, kemarin dia ditemukan pingsan di koridor saat berjalan-jalan. Karena itu, hari ini dia tidak diizinkan bermain-main. Dia harus istirahat. Aku baru mengetahui hal itu tadi karena kemarin aku tidak datang untuk menjenguknya.

Sambil membelai-belai rambutnya, aku menatap wajah Jasmine yang di mataku semakin hari semakin pucat. “Sudah, jangan sedih. Aku ke sini bukan untuk melihatmu cemberut begitu,” kataku bercanda.

Perlahan, senyuman manis terukir di bibirnya yang keunguan. Kami menghabiskan sore itu dengan bercerita. Aku menceritakan beberapa kisah pada Jasmine dan masih meninggalkan beberapa buku lagi untuknya supaya dia tidak bosan.

Sulit dipercaya bahwa itu adalah terakhir kalinya aku berbicara dan tertawa bersama Jasmine. Entah kenapa, sebelum pulang Jasmine meminta supaya aku memeluknya. Meski dengan sedikit heran, aku pun menuruti keinginannya. Keesokan harinya, aku sudah tidak bisa lagi menemuinya. Jasmine telah dipindahkan ke ICCU, Intensif Cardiac Care Unit, ruangan khusus untuk perawatan pasien jantung.

Sampai suatu ketika ….

“Oh, pasien yang bernama Jasumin baru saja meninggal tadi pagi.” Salah seorang perawat memberitahuku saat sore itu seperti biasa aku bermaksud menengok Jasmine.

Aku lunglai, luruh ….

Padahal, baru beberapa waktu lalu ….

“Besok Kakak datang lagi, ya?”

            “Apa? Kakak punya bunga melati juga? Seperti namaku, ya?”

            “Suatu saat nanti, aku ingin bermain ke rumah Kakak ….

Tapi sekarang ….

Sore itu, dengan gontai aku mengarahkan kaki menuju pemakaman. Aku duduk bersimpuh di tepi nisan. Tidak ada lagi yang dapat kukatakan.

“Kau tidak perlu ke rumahku. Aku yang akan mengunjungimu …” kataku lirih, lalu meletakkan setangkai melati yang baru kupetik dari kebunku. Setangkai melati dengan satu bunga yang sudah mekar, dua bunga masih kuncup, dan beberapa helai daun.

Tak terasa setetes air mataku jatuh. Perkenalan singkatku dengannya di dekat mesin penjual minuman kaleng, kesepian Jasmine, kesedihannya, kepedihannya, hingga semangatnya, keceriaannya, serta senyum polosnya.

“Jasmine, sayonara (selamat tinggal) ….”

Aku bangkit berdiri, kemudian mulai melangkah pelan meninggalkan makam Jasmine, sore itu ….

%%%

            Tanpa aku kehendaki, air mata telah meluncur deras menuruni pipiku. Dalam sekejap, wajahku dibuatnya basah. Ah, betapa …. Aku tidak tahu lagi. Hal itu tak terkatakan.

Setiap kali mengingat Jasmine, hatiku selalu terenyuh. Kenangan akan Jasmine memang mampu menguras air mataku. Namun, aku juga sadar bahwa aku tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Aku sendiri heran kenapa bisa merasa sedekat ini dengan Jasmine, padahal kebersamaan kami tidak begitu lama. Bahkan, pertemuan pertama kami justru terjadi ketika dia meminta koin padaku untuk membeli minuman.

Entahlah. Barangkali, karena di dunia ini tidak banyak orang yang masih sanggup tersenyum dengan tulus dan berbagi sedikit kebahagiaan yang dia miliki. Jasmine, dengan segala derita yang ditanggungnya sejak kecil hingga saat terakhir dalam hidupnya, justru memiliki kebahagiaan yang berlimpah di hati dan dirinya. Dia yang selalu riang dan ceria, membuat orang lain lupa akan kesedihannya. Ketabahan Jasmine pula yang membuatku berkaca, betapa tidak bersyukurnya aku selama ini.

“Apa gunanya menangis sepanjang waktu dan meratapi nasib? Lebih baik aku tersenyum pada orang-orang yang kutemui. Dengan begitu, orang lain menjadi senang dan hatiku pun tenang.”

Begitulah yang pernah dikatakan oleh Jasmine. Hal itu selalu terngiang dalam ingatanku. Dan setiap kali mengingatnya, maka aku pun ikut tersenyum.

Dengan jemariku, aku mengusap air mata di wajahku. Kembali aku menghirup udara dalam-dalam, mengisi paru-paruku dengan udara segar. Peristiwa itu telah terjadi beberapa tahun yang lalu. Sudah tiga tahun Jasmine meninggalkan dunia fana ini.

Dari Jasmine aku belajar banyak hal. Walaupun kebersamaan kami sangat singkat, tidak sampai sebulan, Jasmine telah mengajariku makna kehidupan tanpa dia sadari. Dia membuatku menghargai setiap detik kehidupan yang kumiliki, dalam setiap tarikan napas, dan di setiap detakan jantung.

Jasmine juga membuatku menyadari bahwa manusia memang diapit oleh dua ketiadaan. Dulu, Jasmine tidak ada. Kemudian, dia terlahir ke dunia. Pada akhirnya, dia kembali tiada. Demikian pula denganku. Mula-mula aku tidak ada, sekarang aku ada di sini, dan suatu saat nanti, aku pun akan kembali menjadi tidak ada.

Semerbak wangi melati memenuhi udara seperti pemikiran bijak Jasmine yang memenuhi diriku. Tak ada yang dapat kukatakan selain, “Terima kasih, Jasmine ….”

%%%

Tsubaki no Odori (Tarian Bunga Kamelia)

Published January 9, 2013 by Muliyatun N.

            Sudah sejak kemarin dia tidur dan belum juga bangun hingga sekarang. Sebelumnya, dia pun sudah sering seperti ini. Namun, baru kali ini dia tidur sampai sedemikian lama.

            Aku mengembuskan napas berat, menatap halaman samping melalui jendela kamar. Di dekatku terbaring Tsubaki, kakak perempuanku, yang dari kemarin terus-menerus tidur.

            Tsubaki, ada apa denganmu?

%%%

            Tsubaki dan aku adalah kakak beradik. Tsubaki tiga tahun lebih tua dariku. Saat ini, dia sudah duduk di bangku kelas 3 SMA sementara aku masih kelas 3 SMP.

            Meskipun bersaudara, kami ini ibarat dua sisi mata uang. Dekat, tapi sangat bertolak belakang. Tsubaki lembut, sabar, pengertian …. Tidak seperti aku yang egois, ceroboh, dan sering dibilang mirip laki-laki. Di sekolahnya, Tsubaki tergabung dalam kelompok tari. Setiap tahun, aku, ibu, dan ayah menonton pertunjukan tarinya pada festival sekolah. Aku? Tendangan dan pukulan karate lebih banyak mengisi hari-hariku.

            Pernah terjadi saat aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP, aku mendapat tugas untuk membuat rajutan. Terang saja aku kalang kabut. Aku sama sekali tidak mengerti mengenai hal-hal yang berkaitan dengan merajut sementara apa yang diajarkan di sekolah belum cukup untuk dapat membuatku bisa merajut. Tak ada seorang pun yang mau mengajariku. Kalaupun ada, biasanya dia sudah menyerah sebelum aku bisa merajut sendiri. Hanya Tsubaki yang dengan telaten dan sabar menuntunku mengait-ngaitkan benang sampai akhirnya aku terlatih dan berhasil membuat syal sendiri.

            Selain pandai membuat rajutan, Tsubaki juga jago memasak dan mengurus rumah. Pekerjaan rumah tangga banyak yang dikerjakannya bersama ibu. Sementara aku lebih suka mengurus kebun bersama ayah.

            Aku pernah bertanya kepada ayah kenapa aku tidak feminin seperti Tsubaki, padahal kami sama-sama perempuan. Mendengar pertanyaanku, ayah tertawa. Saat itu, ayah mengatakan bahwa setiap manusia memang berbeda dan memiliki keunikan sendiri-sendiri. Hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk saling iri dan membenci. Justru dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, manusia harus bisa saling melengkapi. Kurasa, perkataan ayah tersebut memang benar. Soalnya, kalau aku dan Tsubaki sama, keseimbangan rumah ini bisa goyah.

            Tsubaki paling takut terhadap ulat, baik itu ulat biasa, apalagi ulat bulu. Dia pernah menangis sampai pucat gara-gara mendapati ulat pada tanaman yang sedang disiramnya ketika mengikutiku beraktivitas di kebun. Setelah aku menyingkirkan ulat tersebut, Tsubaki masih juga menangis dengan tubuh gemetaran. Di saat seperti itu, aku merasa menjadi seorang kakak sementara Tsubaki tak ubahnya seperti anak kecil. Tapi, Tsubaki memang cengeng. Dia mudah sekali menangis.

            Akhir-akhir ini Tsubaki sering sekali “tidur”. Itu istilahku untuk menyebutnya ketika kelelahan kemudian jatuh pingsan. Entah kenapa dia. Padahal, selama ini Tsubaki baik-baik saja. Namun, belakangan ini, kelelahan sedikit saja, dia sudah tidak sadarkan diri.

            “Kakakmu itu tubuhnya memang lemah sejak kecil.” Begitu ayah memberi penjelasan padaku.

            Apa yang dikatakan ayah itu memang benar. Tapi, aku tetap merasa bahwa ayah telah berbohong. Aku yakin ayah masih menyembunyikan sesuatu dariku. Aku harus mencari tahu apa itu.

%%%

            “Ibu, sebenarnya Tsubaki sakit apa?” Setelah gagal mengorek informasi dari ayah, aku berusaha mencari tahu melalui ibu.

            “Kau ini bicara apa, Kusaki?” ibu hanya setengah menanggapiku sambil melipati baju-baju yang baru saja kering.

            “Tsubaki, Bu. Kenapa dia tidak juga bangun?”

            Ibu mengembuskan napas pelan sebelum menjawab, “Dia hanya terlalu lelah. Dia berlatih keras untuk penampilan tarinya di festival sekolah.”

            Benar. Apa yang disampaikan oleh ibu juga benar dan masuk akal. Sebentar lagi festival sekolah. Tsubaki giat berlatih supaya dapat menampilkan tarian dengan baik saat pertunjukan nanti. Tapi, apa benar itu sebabnya? Tahun lalu pun Tsubaki rajin berlatih, dua tahun lalu juga, tapi tidak terjadi apa-apa. Baru tahun ini, Tsubaki mulai seperti orang yang berpenyakitan.

            “Kenapa Ibu berbohong? Ayah juga. Katakan saja yang sebenarnya padaku.”

            Ibu tidak terlalu menghiraukan omonganku. Tangannya masih cekatan melipat baju. Aku yang sejak tadi membantunya sambil mencoba berbicara padanya, dianggap seolah aku ini hanya anak kecil yang sedang mengajak orangtuanya bermain-main.

            “Aku juga berhak tahu,” lirihku. Namun, tak ada sahutan dari ibu.

%%%

            Akhirnya, sore itu ayah mengajakku berkumpul bersama ibu di ruang keluarga. Tsubaki masih belum sadar juga.

            Sembari duduk mengelilingi meja, aku memerhatikan ayah berkali-kali menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan-lahan. Walaupun memasuki musim gugur ini udara sudah tidak terlalu panas, titik-titik keringat tampak menyembul di dahi ayah. Kelihatannya, ayah tengah berpikir keras, menimbang-nimbang apa yang akan dikatakannya.

            “Ayah ingin kau tetap tenang dan bersikap biasa.” Tiba-tiba, ayah angkat bicara.

            Meskipun belum mengerti ke mana arah pembicaraan selanjutnya, aku mengangguk juga.

            “Dan, jangan mengatakan hal ini pada Tsubaki,” ayah melanjutkan.

            Kepalaku terangguk lagi. Aku menunggu dengan tegang. Lagi-lagi, ayah menghela napas panjang.

            “Sebenarnya … Tsubaki adalah …” ucap ayah terpotong. Ayah terdiam lama.

            “A, apa?” tanyaku tak bisa menahan diri.

            “Tsubaki … adalah hasil kloning …” kali ini, ibu yang menjawab.

            Apa?! Tsubaki manusia kloning?!

            Sebentar kemudian, meluncurlah cerita mengenai asal-usul Tsubaki.

            Ternyata, dulu ayah adalah seorang ilmuwan sebuah perusahaan bioteknologi. Bersama seorang rekannya, ayah melakukan percobaan manusia kloning. Tentu saja percobaan itu ilegal. Di antara para relawan yang bersedia membantu jalannya percobaan, ada ibuku sekarang bersama temannya yang bernama Tsubaki. Tsubaki baru saja menjalani operasi pengangkatan rahim sehingga dia tidak dapat melahirkan anak. Akibat peristiwa tersebut, laki-laki yang baru setahun menikahinya, akhirnya pergi meninggalkannya. Karena itu, Tsubaki memutuskan menempuh cara kloning untuk mendapatkan anak. Ibu bersedia membantu sahabatnya itu.

            Pertama, sel tubuh milik Tsubaki diambil untuk kemudian diambil inti selnya. Inti sel tersebut lalu disuntikkan pada sel telur milik ibu yang intinya telah dihilangkan. Sel itu terus berkembang menjadi embrio dan embrio itu saat ini adalah … Tsubaki kakakku.

            Tsubaki sahabat ibu sangat gembira mendengar keberhasilan kloningnya. Namun, kesehatannya sendiri tak kunjung membaik setelah operasi yang dijalaninya. Pada akhirnya, Tsubaki meninggal dunia.

            Ayah yang saat itu seharusnya senang dengan kesuksesan hasil kloningnya, ternyata malah merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya. Akhirnya, dia mundur dari ikatan keanggotaan profesor. Dia memilih menekuni pekerjaan di bidang otomotif sampai sekarang dan menikah dengan ibu. Dari pernikahan mereka, lahirlah aku.

            “Tsubaki tidak boleh mengetahui hal ini ….”

            PRAAANGGG!!!

            Baik aku, ayah, maupun ibu sama-sama terperanjat. Nyaris serentak kami menoleh ke arah pintu. Di sana tampak Tsubaki berdiri kaku dengan wajah pucat dan air mata berleleran. Di dekatnya berserakan pecahan vas bunga yang baru saja terjatuh olehnya.

            “Tsubaki …” panggil ayah gugup.

            Tsubaki menggeleng-geleng, kemudian cepat berlari ke kamarnya. Sia-sia ayah mengejarnya dan berteriak memanggil namanya. Apalagi, ibu juga turut menahan ayah.

            “Kenapa?!” tanya ayah keras.

            “Tsubaki pasti ingin sendiri,” jawab ibu tenang.

            Ya, Tsubaki kakakku adalah Tsubaki teman ibu juga. Tentulah sifat dan karakter mereka sama. Karena itu, ibulah yang lebih mengenal kepribadian Tsubaki.

            Aku sendiri hanya bisa terpaku di tempat. Aku masih sama terkejutnya dengan Tsubaki mendengar kenyataan ini. Aku berharap semuanya tidak pernah terjadi dan hanya menjadi mimpi yang akan segera berakhir saat aku bangun nanti.

%%%

            Aku masuk ke kamar Tsubaki yang pintunya tidak dikunci dengan membawa kotak obat. Di salah satu sudut kamar, aku melihat Tsubaki duduk meringkuk dengan wajah tersembunyi. Bahunya berguncang, menandakan dia sedang menangis hebat.

            Tanpa mengatakan apa-apa, aku berjalan menghampirinya lalu duduk di sampingnya. Aku mencoba mengobati kakinya yang terluka karena menginjak pecahan vas bunga ketika berlari tadi.

            “Aku ini apa? Tidak punya ayah, tidak punya ibu, lalu tiba-tiba muncul di dunia …. Aku ini … namanya apa?” tanyanya sambil terisak-isak usai aku mengobati lukanya.

            Aku tidak tahu harus berkata apa.

            Semalaman ini, Tsubaki terus menari di kamarnya seperti orang kerasukan. Aku hanya bisa menatapnya lewat celah pintu tanpa berusaha menghentikannya. Barangkali, itu memang lebih baik untuk mengungkapkan perasaannya. Ketika akhirnya aku masuk untuk membawakannya minuman, Tsubaki terjatuh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya.

            “Aku mau mati …. Aku mau mati … saja ….” Tsubaki menggerung-gerung ingin mati, seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan mainan. “Aku ingin mati!” jeritnya.

            “Kalau mau mati, mati saja.” sahutku dingin.

            Tsubaki menatapku marah. Dia berdiri dan berlari menghambur ke arahku. Dicengkeramnya kedua bahuku kuat-kuat.

            “Anak kecil …” geramnya. “Kau tidak tahu bagaimana perasaanku, kan? Memangnya kau tahu apa? Kau tidak mengerti apa-apa!” Tsubaki meneriakiku.

            Sebenarnya, aku tidak terlalu memedulikan kemarahannya. Aku hanya tidak menyangka Tsubaki akan menjadi sedemikian keras di saat dia benar-benar terluka. Selama ini, dia selalu lembut dan sabar.

            Ketika Tsubaki benar-benar berlari ke ujung ruangan dan mengambil pisau di sana, aku pun tersadar. Aku segera memburunya dan pisau itu dengan mudah berhasil kurebut. Secara fisik, aku memang lebih kuat darinya. Tsubaki hanya menangis saat aku menjatuhkan tubuhnya dan menahannya di lantai.

            “Aku memang tidak mengerti apa yang kau rasakan, tapi kau …” ucapku tertahan. “Kau juga bodoh!” makiku. “Lihat dirimu! Kau menangis. Yang bisa kau lakukan memang hanya menangis. Dasar perempuan cengeng!” aku memarahinya meski hatiku pun sama kacaunya. Walaupun aku mengatakan bahwa Tsubaki cengeng, saat itu air mataku sendiri ikut jatuh membasahi wajahku. Selama beberapa waktu, kami bertangisan.

            Perlahan, aku mencoba berdiri. Dengan gontai, aku meninggalkan Tsubaki.

            Keesokan harinya, aku menemui Tsubaki di kamarnya. Dia sedang duduk menghadap jendela. Aku mendekatinya.

            “Tsubaki, maafkan aku. Aku … kasar sekali padamu.”

            Tsubaki tidak menyahut atau sakadar menoleh padaku. Dia tetap membelakangiku. Kurasa, dia belum ingin menemui orang lain, terutama diriku. Aku pun meninggalkannya, membiarkan Tsubaki dengan kesendiriannya.

%%%

            Hari ini festival sekolah. Aku bersama ayah dan ibu menonton pertunjukan Tsubaki. Dia menampilkan tariannya dengan baik.

            Usai dengan penampilannya, Tsubaki tampak pucat dan kelelahan. Ayah langsung mengajaknya pulang.

            Sekarang, Tsubaki dan aku duduk-duduk di taman favoritnya. Taman ini sangat disukainya karena di sini tumbuh bunga kamelia, bunga yang sama dengan namanya.

            Tsubaki duduk di sampingku dengan kepala menyandar pada bahuku. Dia mengeluarkan selembar foto kemudian menunjukkannya padaku.

            “Itu fotomu, kan?” tanyaku.

            Tsubaki tersenyum tipis. Pelan, kepalanya menggeleng. “Ini foto Tsubaki, sahabat ibu. Mirip sekali, kan?” usai mengatakannya, Tsubaki langsung menangis.

            Aku tidak bisa berbuat lain kecuali menyediakan bahuku sebagai tempatnya menangis. Hati-hati aku menarik foto sahabat ibu ke dalam tanganku. Di foto itu aku bisa melihat Tsubaki yang sekarang. Tsubaki kakakku benar-benar mirip dengan Tsubaki sahabat ibu.

            Setelah tangis Tsubaki reda dan dia kembali tenang, aku melepas syal yang kupakai untuk kukenakan pada leher Tsubaki. Itu adalah syal pertama yang kubuat sendiri dengan bantuan Tsubaki saat mendapat tugas membuat rajutan dari sekolah waktu itu. Aku menggenggam tangan Tsubaki yang terasa dingin, mencoba memberinya sedikit kehangatan dan kekuatan.

            “Semua akan segera berakhir ….” ujarnya lirih.

            Aku tidak tahu harus bagaimana berkomentar. Sahabat ibu menderita kanker yang sudah kronis. Bukan tidak mungkin Tsubaki juga mengalaminya. Tapi, dia menolak untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama aku, ayah, dan ibu.

            Entahlah. Yang pasti, kloning manusia tak seharusnya dilakukan karena hal itu melawan takdir, menyalahi potensi alami manusia. Kloning manusia juga dapat merusak garis keturunan. Anak-anak yang terlahir kemudian tidak memiliki orangtua sehingga mengacaukan tatanan hidup bermasyarakat. Selain itu, manusia kloning sendiri menjadi menderita. Bagaimana seandainya dia terlahir tidak sempurna? Cacat misalnya? Apakah dia akan dihabisi begitu saja?

            “Kusaki …” Tsubaki mendesah pelan, menyadarkanku dari lamunan. “Aku sayang padamu …” ucapnya lembut. Seleret senyum terukir di bibirnya yang pucat.

            Aku sendiri tidak terbiasa mengungkapkan isi hatiku, tapi sungguh, aku pun menyayangi Tsubaki. Kuharap, Tsubaki dapat merasakan perasaanku terhadapnya walaupun aku tidak mengutarakannya.

            “Kenapa namaku Tsubaki?”

            “Karena kau cantik. Cantik sekali …” kataku jujur. Sebagaimana bunga kamelia yang indah, anggun, dan mempesona. Seperti itulah dirimu ….

            Mungkin, setelah ini aku tidak dapat melihat Tsubaki menari lagi. Tapi, jika melihat bunga kamelia berayun bersama tiupan angin, aku pun seperti kembali melihat Tsubaki menarikan tarian bunga kamelia.

%%%