Pacaran Itu Haram

Published April 29, 2010 by Muliyatun N.

Wuiiih, sadis banget. Langsung main judge aja. PACARAN ITU HARAM.

Betul nggak, sih?

Apa iya, pacaran itu haram?

Simak, deh, yang satu ini. Duh, gayanya … J

Cinta Itu Indah, Cinta Itu Anugerah

Duile … puitis banget. Tapi, cinta itu memang indah, kok. Dan cinta memang merupakan anugerah yang dikaruniakan Allah Swt kepada manusia dan seluruh makhluk penghuni jagad ini. Dengan cinta, kehidupan manusia menjadi berwarna sehingga manusia merasa berbahagia.

Cinta = Jaelangkung

Lho, lho, lho … apa lagi ini? Tadi katanya cinta itu indah. Kok, disamakan dengan jaelangkung yang syereeem itu?

Hehehe … sabar dulu, Teman. Kalem dikit, dong!

Seperti yang kita tahu, jaelangkung itu datang tak dijemput, pulang tak diantar. Nah, itu tuh! Cinta juga begitu.

Cinta memang bisa tumbuh dan bersemi kapan saja, di mana saja, dan bisa menimpa siapa saja. Kita baru sadar bahwa kita mencintai seseorang ketika kita sudah jatuh cinta. Kita tidak pernah tahu kapan awalnya, tiba-tiba kita sudah terlanjur cinta. Nggak ada tuh ceritanya cinta minta izin dulu kalau mau lewat atau singgah. Yang ada juga main nyelonong aja.

“Permisi, Mbak, Mas. Saya Cinta, mau numpang lewat, nih ….” Hehehe ….

Witing Tresna Jalaran saka Kulina

Hmm … pasti sudah hafal banget, deh, sama pepatah Jawa yang satu itu. Yup! Kurang lebih artinya adalah asalnya cinta lantaran sering bersama. Dalam hal ini, cinta antara dua manusia, baik sesama jenis maupun berlawanan jenis, biasanya dikarenakan mereka ini sering bersama. Ke sekolah atau kampus atau tempat kerja bersama, belajar bersama, mengerjakan tugas bersama, makan bersama, jalan bareng ke mall, toko buku, nonton film, dan sebagainya.

Dari hubungan antarmanusia itu, kemudian muncul emosi yang saling mengikat satu sama lain. Emosi kemudian memunculkan rasa cinta dalam diri manusia.

Persoalannya sekarang, cinta yang mana dulu?

Ya, tentu saja bergantung dengan siapa seseorang bergaul. Ada cinta seorang anak pada orangtuanya, ada cinta kakak pada adik dan sebaliknya, ada cinta antara teman, cinta antara saudara seiman, dan ada cinta antara laki-laki dengan perempuan. Nah, ini dia yang akan kita bicarakan.

Hari Gini Nggak Punya Pacar, Apa Kata Dunia?

Begitulah kira-kira anggapan anak muda zaman sekarang. Di mana-mana ada pacaran. Di kalangan masyarakat, anak-anak sekolah, mahasiswa, sampai lingkungan kerja. Pokoknya, di mana saja, deh. Bikin gerah ….

Parahnya, yang pacaran itu bukan hanya mereka yang terbiasa mengenakan you can see dan jeans ketat, yang hobi keluyuran di mall, atau mereka yang belum mengenal ajaran Islam. Di antara pelaku pacaran itu ada pula yang memakai kerudung dan berbusana muslimah. Mereka yang sebenarnya paham bahwa pacaran itu saudaranya zina, kok, tetap melakukannya. Miris, kan?

Memang, saat ini pacaran sudah dianggap sebagai tren. Sehingga jika ada yang tidak berpacaran, akan dianggap aneh. Ditambah lagi dengan pemberitaan media, baik cetak maupun elektronik, yang mengekspos pacaran. Berita seputar gosip artis, sinetron, dan reality show yang mengusung, mendorong, mengompori, bahkan memfasilitasi supaya orang berpacaran. Gila nggak tuh?

Makna cinta pun bergeser menjadi sebatas pacaran saja. Atas nama cinta, jadi longgarlah batasan antara laki-laki dengan perempuan. Dengan dalih cinta, nafsu diumbar bukan pada tempatnya. Mulai dari bertatapan, terus pegangan tangan, terus berpelukan, terus berciuman, terus, terus, terus (kayak tukang parkir) kebablasan, deh. Antara makna cinta dengan nafsu menjadi bias.

Padahal, cinta itu suci, cinta itu murni. Mengapa cinta dijadikan kedok untuk menyamarkan nafsu kebinatangan manusia?

Lantas, salahkah media?

Ya, tidak bijaksana juga jika kita langsung menyalahkan TV dan media massa lainnya yang banyak mengusung tema-tema pergaulan bebas. Bukankah acara yang kita kecam itu juga banyak penontonnya? Buktinya, sinetron masih terus diproduksi. Padahal, ceritanya begitu-begitu saja. Itu karena pemirsa menggemarinya.

Jadi, kita harus jeli memilih tontonan yang sehat. Kita juga mesti pandai-pandai memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

Pacaran = Pengecut

Lho, kok, bisa?

Iya, dong. Kalau pacaran, kan, bisa senang-senang saja, diambil manis-manisnya saja. Kalau nanti sudah asam, apalagi pahit, tinggal putus saja. Seperti kata pepatah, habis manis sepah dibuang. Tebu, dong!

Hubungan macam apa itu? Seenaknya saja putus nyambung putus nyambung (jadi kayak lagu). Itu mempermainkan perasaan orang lain. Jahat tahu! Bikin orang lain sakit hati. Belum lagi yang suka gonta-ganti pacar. Astagfirullah ….

Berbeda dengan pernikahan yang disertai tanggung jawab. Ketika mengarungi bahtera rumah tangga, mereka merasakan kebahagiaan bersama. Lalu, ketika timbul masalah, mereka akan menghadapinya bersama pula. Ibarat kata, susah senang ditanggung bersama.

Ketika menikah, pasangan melakukan perjanjian yang agung dengan Allah Swt. Tidak sekadar nembak seperti orang pacaran. Jadi, menikah itu menuntut tanggung jawab yang besar. Orang yang tidak mau menikah dan hanya mau pacaran, berarti dia pengecut.

Mungkin ada yang beranggapan begini, “Kami mau melakukan penjajakan dulu. Nanti dululah menikah. Kenapa harus buru-buru? Agresif banget, sih. Jadi orang yang sabar, dong.”

Eits, tunggu dulu! Nggak salah tuh? Justru orang yang berpacaran itu yang agresif dan tidak sabaran. Sampai-sampai, tidak bisa mengendalikan nafsunya sendiri. Buktinya, belum berani menikah, kok, mau pegang-pegang anak orang? Kelihatan, kan, nafsunya lebih gede ketimbang otaknya?

Lagi pula, mungkin saja pasangan yang berpacaran itu merasa bahwa mereka sedang berusaha saling memahami. Tapi, yang terjadi sebenarnya tidaklah demikian. Kenyataannya, orang yang pacaran itu berusaha tampil lebih baik dari yang sebenarnya. Memang tidak ada salahnya memperbaiki diri, malah bagus itu. Tapi, kalau kita lantas menjadi sosok yang bukan diri kita, itu berarti kita sedang membohongi diri kita sendiri. Konyol, kan?

Yang lebih parah adalah ketika terjadi pergeseran orientasi dalam setiap perbuatan dan aktivitas kita. Kita jadi rajin shalat, puasa, pemberani, tekun belajar, giat bekerja, dan lain-lain bukan karena Allah lagi, melainkan karena si dia. Nah, lho? Kalau semua karena si dia dan untuk si dia, lantas yang kita simpan buat bekal di akhirat apa, dong?

Idealnya, kita berusaha menjadi manusia yang senantiasa memperbaiki diri, baik itu ada si dia maupun tidak. Seluruh perbuatan kita semestinya hanya karena Allah Swt. Tapi, selama kita masih pacaran, kayaknya hampir mustahil untuk menjadi diri kita yang sesungguhnya.

Teman, ketika seseorang berpacaran, yang tampak adalah yang indah-indah dan baik-baik saja. Setelah menikah, baru kelihatan sisi negatif pasangannya. Jadinya, kecewa. Berbeda dengan pasangan yang menikah tanpa pacaran, mereka akan tampil apa adanya. Sisi positif dan negatif akan tampak secara lebih obyektif.

Jadi???

Sebenarnya, tidak ada salahnya, kok, kalau kita memiliki rasa tertarik terhadap lawan jenis. Itu normal. Justru tidak normal jika kita memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis. Na`udzubillahi min dzalik.

Al-Quran pun mampu memberikan jawaban atas fenomena ini.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Q.S. Ali Imran: 14).

Jadi, memang sudah fitrah setiap manusia untuk memiliki cinta. Karena sumber dari segala sumber cinta adalah Allah, maka awal dari setiap rasa cinta dan kepada siapa pun rasa cinta itu, harus tetap berpangkal pada-Nya.

Teman-Teman tentu pernah mendengar ungkapan ini, kan? Ana uhibbuki fillah (kalau diucapkan pada laki-laki menjadi ana uhibbuka fillah), yang artinya aku mencintaimu karena Allah.

Nah, dalam urusan cinta ini, Allah telah memasang rambu-rambu yang jelas. Misalnya, dalam pergaulan dengan lawan jenis.

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk. (Q.S. Al-Isra`: 32).

Coba, deh, Teman-Teman baca, resapi, dan pahami kalimat Allah tersebut. Sedetik, dua detik, tiga detik ….

Wakarimasu ka?

Yup! Allah tidak hanya melarang kita berbuat zina, tetapi juga melarang kita mendekati zina. Pacaran sendiri jelas-jelas menjurus ke arah perbuatan zina. Buktinya, banyak yang hamil di luar nikah gara-gara pacaran.

Jadi …

PACARAN = MENDEKATI ZINA = TIDAK BOLEH = HARAM

Lagi pula, dalam berpacaran, sepasang manusia berbeda jenis ini tidak akan lepas dari aktivitas berpelukan (mau nyaingin teletubbies, nih, ceritanya …), berciuman, atau paling tidak berpegangan tangan dan bertatapan. Hayooo, ngaku …!

Dan tahukah, Teman-Teman, bahwa semua itu sudah termasuk zina. Jadi, zina itu bukan making love saja.

Simak, deh, hadits berikut.

“…. Zina mata adalah melihat, zina telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berkata, zina tangan adalah menyentuh, zina kaki adalah berjalan. Zinanya hati adalah ingin dan berangan-angan . (HR. Muslim dan Abu Hurairah).

Jadi …

PACARAN = HARAM

Lantas, apakah tidak boleh berteman dengan lawan jenis? Apakah berteman harus dengan sesama jenis saja?

Teman, tidak ada yang salah dengan yang namanya bergaul. Siapa, sih, manusia yang bisa hidup sendirian? Setiap orang pasti ingin mempunyai teman. Karena menurut pelajaran kewarganegaraan (dulu PPKn, dulunya lagi PMP), manusia adalah makhluk sosial.

Bahkan, Allah Swt berfirman:

Hai, manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal . (Al-Hujurat: 13).

Jadi, bergaul dengan siapa saja, mah, sah-sah saja, atuh. Seperti yang Allah firmankan, manusia memang diciptakan ada dua jenis, laki-laki dan perempuan. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari pun kita tidak mungkin berteman dengan laki-laki saja atau perempuan saja.

But , ada yang perlu diperhatikan ketika kita berteman dengan lawan jenis. Apaan tuh? Jaga jarak aman, dong! Cukup berteman biasa saja. Kita berhubungan dan bergaul sebatas keperluan yang penting-penting saja pada setiap kondisi. Oke?

Mutusin Doi? Hiks, Hiks, Hiks

Kita sudah membicarakannya bersama-sama dan dengan baik-baik (kayak musyawarah saja). Kita juga sudah sama-sama tahu dan sepakat (yang tidak sepakat, awas! hehehe …) bahwa PACARAN ITU HARAM. Jadi, jauh-jauh, deh, sama yang namanya pacaran.

Nah, bagi yang terlanjur pacaran, mesti bagaimana? Tidak perlu bingung. Stop pacaran dan bertaubat kepada Allah Swt yang telah menciptakan kita.

Biar lebih ngeh, ini dia langkah-langkah yang mungkin bisa Teman-Teman tempuh dalam rangka memutuskan si doi.

  1. Cari tahu manfaat dan kerugian pacaran. Dengan mengetahui dan menyadari kerugian-kerugian yang akan dan mungkin akan ditimbulkan oleh aktivitas pacaran, Teman-Teman akan lebih mudah untuk memutuskan si doi.
  2. Bertekad kuat. Kalau sudah bertekad untuk putus hubungan dengan nyamuk, eh, maksudnya putus sama doi, insya Allah tinggal pelaksanaannya saja. Karena itu, Teman-Teman membutuhkan lingkungan yang mendukung tekad itu. Salah satunya bisa dengan bergaul bersama orang-orang yang selalu mengingatkan kita pada kebenaran dan kebaikan.
  3. Katakan putus pada si dia

“Kita putus!”

“Kenapa?”

“Pokoknya, kita putus. Pacaran tuh dosa, tahu!”

Waduh! Tentu saja tidak perlu sesadis dan sekejam itu dalam mengatakan kata putus. Katakanlah baik-baik bahwa dalam Islam tidak ada istilah pacaran. Ada, sih, tapi nanti setelah menikah.

Memang hal ini berat untuk dijalani. Tapi, lebih baik berat sekarang daripada berat nantinya, MBA misalnya. Lebih berat lagi, ketika kita harus mempertanggungjawabkannya di akhirat. Iya, kalau di dunia, sih, kita masih bisa ngeles-ngeles karena begini, karena begitu, karena faktor ini, faktor itu. Nah, kalau di akhirat, mana mungkin?

Kalau si doi tidak mau menerima, santai sajalah. Dia, toh, bukan suami/istri dari Teman-Teman. Dia cuma pacar. Dan pacaran itu hubungan yang ilegal. Kalau yang legal namanya pernikahan.

Sadis bin kejam, ya?

Begini, deh. Pertama, batasi pertemuan dengan sang mantan. Terus, kurangi intensitas SMS dan telepon. Insya Allah, lama-lama perasaan di antara kalian akan memudar. Jangan khawatir. Kalau memang jodoh, tidak akan lari ke mana, kok.

Nah, Teman, jangan sedih gara-gara ditinggal pacar atau karena meninggalkan pacar. Dunia ini bukan hanya milik kalian berdua saja. Coba tengok saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Mereka kehilangan harta, tempat tinggal, bahkan orang-orang yang mereka kasihi. Ayah, ibu, anak, kakak, adik, tetangga, serta sanak famili. Kayaknya, putus sama pacar nggak ada apa-apanya, deh, dibandingkan dengan penderitaan mereka. So, don`t be sad!

Jomblo, Siapa Takut?!

Ketika kita sedang ngejomblo, kita harus tetap waspada. Soalnya, yang namanya setan itu selalu menggoda manusia dari segala penjuru arah.

Virus merah jambu pun seringkali mempermainkan hati. Konon, virus yang satu ini lebih dahsyat daripada virus penyakit. Kalau tidak kuat iman, pertahanan bisa jebol. Terjerumus ke lembah pacaran, deh. Padahal, pacaran setelah menikahlah yang lebih murni dan menenangkan.

Terus, apa yang harus dilakukan agar tidak terperangkap oleh jerat setan tersebut? Gampang, kok. Di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Menjaga pandangan. Allah Swt berfirman:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (Q.S. An-Nur: 30).

  • Menjaga pikiran yang melintas di benak. Kalau pikiran mulai melantur pada hal-hal yang negatif, butuh rem yang pakem tuh.
  • Menjaga kata-kata dan ucapan. Firman Allah Swt:

Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidak seperti wanita yang lain jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. (Q.S. Al-Ahzab: 32).

Berkata-kata memang butuh sopan, tetapi juga butuh ketegasan. Diusahakan tidak berkata-kata dengan lemah lembut, merdu, mendayu-dayu, dan menggoda sehingga dapat membangkitkan nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya.

  • Menghindarkan diri dari memakai wangi-wangian yang dapat tercium oleh kaum adam, sehingga membangkitkan nafsu syahwat mereka. Rasulullah SAW bersabda:

Wanita mana saja yang memakai parfum kemudian dia keluar, lalu melewati orang banyak agar mereka dapat mencium wanginya, maka dia adalah pezina. (HR. Abu Daud dan An-Nasai).

  • Menghindari berdua-duaan dengan laki-laki atau wanita yang bukan mahram, seperti sabda Rasulullah SAW:

Janganlah seseorang dari kalian berkhalwat (berdua) dengan seorang perempuan kecuali bersama mahramnya. (Muttafaqun `alaih).

  • Menghindari bersentuhan dengan laki-laki atau perempuan yang bukan mahram, sebagaimana hadits berikut:

Ditusuk kepala salah seorang di antara kamu dengan jarum besi besar lebih baik daripada memegang perempuan yang tidak halal baginya. (HR. Thabrani).

Rasulullah SAW juga pernah mengatakan, Lebih baik memegang bara api yang panas daripada menyentuh wanita yang bukan mahram.

  • Sedapat mungkin menghindar dari bercampurbaurnya laki-laki dan perempuan dalam satu forum. Hal ini dimaksudkan agar tidak memunculkan peluang fitnah yang terjadi dari berdesak-desakannya laki-laki dengan perempuan dalam satu forum.

Pada dasarnya, pertemuan antara laki-laki dengan perempuan itu tidak dilarang. Kadang malah diperlukan bila tujuannya adalah kerja sama yang baik. Tapi, kondisinya perlu diatur. Laki-laki berkumpul dengan laki-laki di satu sisi, perempuan dengan para perempuan di sisi yang lain.

  • Menutup aurat.

Sekarang banyak sekali wanita-wanita yang mengaku beragama Islam, tetapi memakai pakaian yang press body, transparan, dan membuka aurat. Baju yang atas semakin menyusut ke bawah dan yang bawah semakin mengerut ke atas.

Padahal, para wanita perlu menutup auratnya untuk membantu lawan jenis agar tidak kotor hati dan pikirannya.

Allah Swt berfirman:

Hai Nabi! Katakan pada istri-istrimu, anak-anakmu yang perempuan, dan perempuan yang beriman, hendaklah mereka menutup tubuhnya dengan jilbab. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal (jilbab itu ciri khas perempuan beriman) dan mereka tidak akan diganggu. (Q.S. Al-Ahzab: 59).

Jadi, fungsi pakaian bagi wanita adalah untuk menutup aurat, sebagai identitas muslim, serta menjaga diri dari nafsu syahwat kaum adam.

Pakaian di sini bukan sembarang pakaian. Syarat pakaian muslimah yaitu menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, tidak ketat sehingga memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh, dan tidak tipis atau transparan.

  • Menikah atau banyak puasa. Menikah bisa menjadi solusi agar terhindar dari tindakan yang tidak halal (pacaran). Kalau belum bisa menikah karena masih banyak kendala, puasa dapat mengurangi nafsu yang tak terkendali. Seperti yang dipesankan Rasulullah SAW:

Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu, menikahlah! Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa di antara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu. (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, dan Tirmidzi).

Teman, jangan takut dan cemas kalau tidak punya pacar. Sudah terbukti bahwa pacaran tidak menjamin seseorang menemukan jodoh terbaik mereka. Berbahagialah kita yang ikhlas menjadi jomblo karena Allah.

Bukankah rezeki, jodoh, dan ajal sudah ditetapkan oleh Allah? Kita percaya pada Allah, kan? Ketika kita bersikeras untuk pacaran demi mendapatkan jodoh yang pas, berarti secara tidak sadar, kita sudah meragukan janji Allah tersebut.

Kita memang harus berusaha untuk mencari jodoh yang terbaik, tapi bukan dengan pacaran caranya. Firman Allah Swt:

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (Q.S. An-Nur: 26).

Jadi, kalau kita ingin mendapatkan jodoh yang terbaik, tentu dari sekarang kita harus memperbaiki diri terlebih dahulu.

Tak lupa kita juga harus senantiasa memohon kepada Allah agar selalu berada dalam lindungan-Nya.

Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari ilmu yang tidak berguna, dari hati yang tak pernah tenang, dari doa yang tak didengar, dan dari nafsu yang tak pernah kenyang. (HR. An-Nasai).

So, mulai sekarang, kita ganti statement-nya menjadi:

HARI GINI MASIH PACARAN, APA KATA DUNIA???

Oke?

Nah, sekian dulu dari saya. Semoga bermanfaat ^_^

35 comments on “Pacaran Itu Haram

  • hahaha,,
    lucu,,lucu,,
    jarang2 deh muli nulis yg lucu2 gini…
    tp kalo lg suka sm orang,,
    q kok gak prnah serius ya???
    mungkin krn aq lbh cinta ma diriku sendiri,,
    hahaha…
    egoisnya aq…

  • pacaran sebelum nikah itu indah = uso
    pacaran setelah menikah = Ikimashou :), tapi jika belum siap cintai ia dalam diam, iya kan kak Miko? ^_^

  • salam kenal kak. aku baru baca novel Akatsuki. suka sekali! ternyata dah diterbitin sejak 2009 yah. hikz! nyesel gak baca sejak awal keluar…>.<

    bdw, thanks postingannya kali ini kak. betul2 menarik dan bermanfaat. syukur aku belum pacaran. mau ta'aruf aja. siapa tahu dapat jodoh kayak Kagawa Satoshi. hihih :)

  • Kak tulisannya menggugah jiwa n cocok dibaca krn ndag monoton
    n kk knapa ya waktu ku diputusin ma pacarku wlau aku udah mta maaf tetapi hubungna silaturahmi kami tidak baik???
    Makasih yach sbelumnya

  • Assalamu’alaikum wr.wb.

    kyaa…aku suka banget tulisan kak Miko,,
    wah…aku juga belum pernah pacaran,, Alhamdulillah..padahal bentar lagi umurku 18 tahun..
    ada sih yang bilang suka,, tapi aku lebih suka berteman,, pengen sekolah dengan serius,, menuntut ilmu biar bisa meraih impianku..

    btw,, thanks ya kak atas tulisannya…ilmuku nambah lagi nih..

  • eh,boleh lho pacaran itu tp hrs bca syahadat dlu ada walinya ada penghulunya dan pasti hrs ada ijab qobulnya.kl belum lengkap jangan dulu emang.SYERREEEM!
    lagipula bikin cape deh!
    sibuk mikirin orang yang belum tentu mikirin kita.tul ga sih?

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: